Orchid Of Rejang Lebong

Oberonia subanajamensis JJSm, 1928 Is one of hundreds species of orchids in Rejang Lebong, read more about orchid of rejang lebong

Rejang Tribe

Rejang is unique from other tribes, one of the unique customs and language, Read more for Rejang tribe..

Armophophallus

many species of Amorphophallus grown wild in Rejang Land,one of them Amorphophallus titanum is the biggest Armophophallus. Read more

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pentas Spp

i am not sure abaut the native name, i found this flowers at East Curup district, may be this is Pentas Lanceolata, if it is wrong, please inform me Pentas is a genus of the Rubiaceae family of flowering plants. Pentas lanceolata is a particularly popular species. The plants have dark green, lance-shaped, somewhat furry and deeply veined leaves providing a backdrop for prolific clusters of never-ending, five-petaled flowers. These may be red, white, lavender, purple, or shades of pink. Some are two-toned.
All are extremely attractive to butterflies, and the red and dark pink varieties delight hummingbirds. Also Pentas is compatible with the dry soil and intense heat of the Floridian sun. Lastly It can withstand full sunlight with little to no care.They look great in pots, baskets, and borders. LIGHT: full sun SPACE: 10 - 20 inches apart HEIGHT: 10-18 inches tall BLOOM TIME: spring, summer, and fall FEED: plant food PLANT WITH: Salvia and Coneflower Scientific classification Kingdom: Plantae Division: Magnoliophyta Class: Magnoliopsida Order: Gentianales Family: Rubiaceae Genus: Pentas

Sejarah Pemerintahan Haji Radunin

(Wawancara singkat dengan Tokoh Masyarakat Bapak A. Sani) Berdasarkan konsultasi kami kepada Bapak A. Sani pada hari senin tanggal 3 february tahun 1997 jam 3 sore, dimana beliau adalah mantan Pasirah, ketua DPR dan budayawan yang banyak mengetahui sejarah pemerintahan di kabupaten Rejang Lebong. Menurut beliau Belanda pertama kali masuk ke Kabupaten rejang Lebong adalah di Kepala Curup lewat dari Beliti tahun 1840, kecamatan/pemerintah pada saat itu berada di Kepala Curup, untuk mendapat gelar Pangeran tidaklah gampang, seorang yang akan mendapat gelar Pangeran minimal 5 (Lima) tahun telah menjabat Pasirah dengan kerja yang dinilai oleh Belanda baik barulah di angkat Pengeran. Untuk di Kepala Curup yang pertama kali mendapat gelar Pangeran adalah Pangeran Egok kemudian disusul sekitar 2 (Dua) tahun kemudian oleh Pangeran Haji Radunin yang menjadi kepala Marga Selupuh Rejang tahun 1859 - 1866. Untuk acara acara ceremonial yang diadakan Belanda yang sering tampil adalah Pangeran Egok dari Kepala Curup atau Pangeran Haji Radunin, kedua Pangeran tersebut merupakan orang yang sangat disegani Belanda. Wawancara oleh : Drs Kahirul Anwar, Sy Sumber : Diketik ulang dari Buku Silsilah keturunan keluarga besar Pangeran Haji Radunin Gelar Ratu Kesuma tahun 1997 sumbangan dari Gienthe Lagenda (Bandung) http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/sejarah-pemerintahan-haji-radunin.html

Berben (Rubus sumatranus )

Arben (Rubus sumatranus ) atau Buah Berben orang Curup menyebutnya, namun tanaman ini sudah jarang untuk di temukan. buah yang masak berwarna merah dan memiliki rasa asam manis.
Superregnum: Eukaryota Regnum: Plantae Divisio: Magnoliophyta Classis: Magnoliopsida Ordo: Rosales Familia: Rosaceae Subfamilia: Rosoideae Tribus: Rubeae Genus: Rubus Subgenus: R. subg. Idaeobatus Species: Rubus sumatranus Foto: lokasi Desa Air Bening Kec. Bermani Ulu Raya

Rumah - Rumah Tua

Rumah Tua di Kelurahan Air Rambai Kecamatan Curup
Rumah Tua yang ada di Dusun Curup Kecamatan Curup Utara
Rumah tua di desa Tebat Tenong Luar Kec. Bermani Ulu Raya
Rumah Tua di Desa Bandung Marga Kec. Bermani Ulu Raya

Arachnis flosaeris from Rejang Land (Sumatra Highland)

Found on the Malaysian pennisula as well as Sumatra, Java, Borneo and the Philippines in mangroves and along rivers at elevations of sea level to 1000 meters as a as a large to giant sized, warm growing monopodial, climbing epiphyte or scrambling lithophyte often over 15' tall, with terete, elongate, scandent stems carrying ligulate or linear-oblong, curved, slightly twisted, notched and gradually narrowing towards the apex, basally clasping leaves that are pierced below at intervals by roots and blooms on a simple or branched, axillary, to 4' [120 cm] long, ascending to drooping inflorescence with many widely spaced flowers with a strong musky to sweet scent occuring in humid environments almost continuously but most in the fall.
Synonyms Aerides arachnites Sw. 1799; Aerides flosaeris (L.) Sw. 1799; Arachnis flosaeris (L.) Schltr. 1911; Arachnis flosaeris var. gracilis Holttum 1935; Aerides matutinum Willd. 1805; Arachnis moschifera Blume 1826; Arachnanthe flos-aeris Rchb.f 1905; Arachnanthe moschifera Blume 1848; Epidendrum aerosanthum St.-Lag. 1880 ; *Epidendrum flos-aeris L. 1753; Limodorum flos-aeris Sw. 1799; Renanthera arachnites Lindley 1833; Renanthera flos-aeris Rchb.f 1858; Renanthera moschifera [Bl.] Hassk. 1848; In Rejang Land especially sumatera highland, people call this flowers as Anggrek Kalajengking in mean as scorpion orchid in english, some literatur say in other place call as spider orchid. In Curup Town, with lied abaut 700 - 800 metres from level sea, the orchid grow rapidly with good condition, even in wild rainforest of heart Sumatrahigland. In this area I have found two varian, one of them as u can see below. the other varian little bit more bigger than this one, and more dark brown color if we compare with this one. Now we compare with species from other area, let see below : This is from Philipines : This one below very rare is called as Arachnis flosaeris Insignis
Source : Photo : the Anggrek kala jengking species from Rejang Land on Pangsit Noni 21 Curup http://www.rv-orchidworks.com/orchidtalk/orchids-other-genera-bloom/10885-arachnis-flosaeris.html http://www.orchidspecies.com/arachflos-aeris.htm http://www.orchidsasia.com/arachnis.htm http://www.tropicalexotica.com/c1.htm http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/3jpg.html

Tlung Dedet ( Solanum Mammosum )

Dalam bahasa setempat ( Bahasa Rejang ) Tlung Dedet/Terong Dedet (Solanum mammosum ). atau dengan sebutan lain nipplefruit, titty fruit, Cow's Udder, atau Apple of Sodom, tanaman yang mirip terong ini memiliki ciri-ciri sama dengan tanaman terong umumnya, namun bedanya di batangnya dan tankainya ditumbuhi duri-duri seperti duri-duri bunga mawar
tidak hanya di batangnnya, dipermukaan daunnya pun di tumbuhi dengan duri-duri,ukuran buahnya seukuran dengan buah tomat,dan warnanya kuning bila sudah tua,memiliki benjolan benjolan di pangkal buahnya.
Scientific classification
Kingdom: Plantae
Division: Tracheobionta
Class: Magnoliopsida
Subclass: Asteridae
Order: Solanales
Family: Solanaceae
Genus: Solanum
Species: S. mammosum
Binomial name
Solanum mammosum
Ket: Gambar diambil di Desa Air Bening Kec. Bermani Ulu Raya

DUSUN TALANG AIR NIPIS

Sebuah Dusun yang berada di Kecamatan Bermani Ulu Raya, yang berpenduduk sekitar 125 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 50 KK, Dusun yang berjarak kurang lebih 15 kilometer dari ibukota kecamatan Bermani Ulu Raya ini memiliki udara yang sejuk dikarenakan lokasinya berada di daerah perbukitan,dan dataran tinggi, mata pencaharian penduduknya adalah bertani, khususnya petani kopi, tidak heran jika memasuki dusun ini sepanjang jalan akan terlihat perkebunan kopi yang tersusun rapi.
selain perkebunan kopi,ada juga perkebunan sayur mayur,namun kebanyakan adalah perkebunan kopi, mungkin bisa dibilang daerah ini mensuplay 90 % kopi di Rejang Lebong,untuk menjangkau dusun ini dapat dilalui oleh kendaraan roda 2 dan 4,dengan jalan yang sangat sempit dan berbatu, hanya bisa dilewati satu kendaraan saja.sebagian besar wilayah ini merupakan wilayah TGHK (Tata Guna Hutan Kesepakatan )dan daerah ini juga merupakan daerah perbatasan antara Kabupaten Rejang Lebong dengan Kabupaten Lebong,karena masih berupa talang daerah ini belum tersentuh oleh listrik dan air ledeng,untuk mendapatkan air bersih mereka menggunakan air-air sungai dan air yang berasal dari mata air - mata air sekitar,dan juga daerah ini belum terdapat sekolah dasar,sehingga anak-anak mereka bersekolah ke desa-desa terdekat yang berjarak kurang lebih 10 kilometer.

Road Show Ke - 3 Pelayanan KB Kesehatan

Kembali Road Show Kesehatan, Pelayanan Kesehatan dan KB dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong ( Senin 28 Juli 2008 ), yang kali ini berfokus di desa-desa di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Bermani Ulu dan Kecamatan Bermani Ulu Raya, yang bertujuan memberikan pelayanan kesehatan dan KB ke masyarakat dan mempercepat pertumbuhah Kesiapan Desa Siaga. Sebelumnya Road Show serupa telah di lakukan di Kecamatan Kotapadang ( Road Show I ) dan Sindang Beliti Ilir dan Kecamatan Padang Ulak Panding ( Road Show II )
Kali ini Road Show yang di ikuti oleh 160 orang yang terdiri dari Dokter, perawat dan bidan yang berasal dari Puskesmas - puskesmas se Kabupaten Rejang Lebong diantaranya Puskesmas Curup, Puskesmas Perumnas, Puskesmas Kampung Delima, Puskesmas Tunas Harapan, Puskesmas Watas Marga, Puskesmas Talang Rimbo Lama, Puskesmas Sambirejo, Puskesmas Sumber Urip, Puskesmas Beringin Tiga, Puskesmas Sindang Jati, Puskesmas Sindang Dataran, Puskesmas Kepala Curup, Puskesmas Tanjung Agung, Puskesmas Padang Ulak Tanding, Puskemas Sindang Beliti Ilir dan Puskesmas Kotapadang, serta ditambah dengan tenaga-tenaga pendamping dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong, dan juga dibantu oleh Tim Penggerak PKK Kab. Rejang Lebong, Dharma Wanita Persatuan Kab. Rejang Lebong,dan Dinas KB Kab,Rejang Lebong.Dan dibuka langsung oleh Bupati Rejang Lebong Suherman, SE, MM di lapangan Pemda Kabupaten Rejang Lebong.
Ket:Lokasi foto desa Air Bening dan Dusun Talang Air Nipis Kec. Bermani Ulu Raya : Dokter dan Staf PKM Watas Marga, Tim PKK Kab. RL, Staf Dinkes RL

Pematang Danau

Pematang danau ( Danau Harum Bastari / Danau Mas )Bulan Juli 2008 foto diambil dari Villa Hijau

Macang

sejenis mangga namun memiliki rasa yang asam, buah ini masih sering di jumpai di curup dan biasanya dijadikan sebagai lauk yaitu dengan cara disambal.
Macang adalah nama sejenis pohon buah yang masih sekerabat dengan mangga. Orang sering menyebut buahnya sebagai bacang, ambacang, embacang atau mangga bacang. Juga dikenal dengan aneka nama daerah seperti limus (Sd.), asam hambawang (Banjar), macang atau machang (Malaysia), maa chang, ma chae atau ma mut (Thailand), la mot (Myanmar) dll. Dalam bahasa Inggris disebut bachang atau horse mango, sementara nama ilmiahnya adalah Mangifera foetida Lour.

Pricit Madu (Cinnyris jugularis spp)

Masih sering di temui di curup khusunya di daerah perkebunan dan perbukitan, namun masyarakat lokal menyebutnya dengan nama pricit madu (Cinnyris jugularis spp) , dikarenakan burung tersebut menghisap sari - sari bunga. namun bila ada para pembaca yang mengetahui nama dan jenis burung ini mohon informasinya.
keterangan : Ukuran tubuh kecil kurang lebih panjang 6-7 cm ( sepanjang jari telunjuk ) bentuk tubuh ramping, dan memiliki paru yang panjang

Samba Macang

Samba Macang ( sambal macang ) merupakan salah satu masakan yang sering dibuat masyarakat curup, bila musim buah macang berbuah, namun tidak diketahui dengan pasti apakah masakan ini khas daerah curup apa bukan, soalnya hampir disetiap daerah mempunyai dan mengenal nama masakan ini hanya namanya saja yang berbeda. masakan ini biasanya dimakan bersama nasi yang dijadikan sebagai lauk.
Bahan: Buah Macang Cabe Gula Merah Cara Membuat: kupas buah macang lalu dicuci bersih dan di iris-iris sesuai selara, setelah itu campukan dengan cabe yg sudah digiling halus dan gula merah ,lalu aduk-aduk hingga merata.

Riwayat Sultan Sarduni gelar Rio Mawang

Sultan Sarduni gelar Rio Mawang, setelah mendengar cerita dari ibunya “Puteri Bungsu” bahwa neneknya “Sutan Saktai” masih hidup dan saat ini berada dan menjadi Rajo di Renah Pelawi Lebong, maka ia mohon izin kepada ibunya untuk mencari neneknya. Dalam pencarian itu, Sultan Sarduni pergi tanpa arah, ia hanya menuruti kata hatinya, Sultan Sarduni berjalan menyusuri pantai laut arah keselatan, hingga sampailah ia kemuara sungai (Sungai Ketahun), dan iapun menyusuri sungai tersebut hingga akhirnya sampailah ia ke suatu gunung (Gunung Resam), karena kelelahan akhirnya Sultan Sarduni tertidur di puncak gunung itu, dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh orang tua, dan orang tua itu berkata “palingkan mukamu kearah timur, disanalah nenekmu sedang bersidang”, setelah terjaga pergilah Sultan Sarduni kearah Timur seperti petunjuk orang tua dalam mimpinya. Setelah berjalan ± 12 Km, sampailah ia kesuatu kampung (Renah Pelawi), disana ia melihat banyak orang yang telebong (rapat raja bersama para pemimpin Pat Petuloi), akhirnya bertemulah Sutan Sarduni dengan neneknya Sultan Saktai.
Dari kata-kata Telebong itulah, maka Renah Pelawi disebut dengan Lebong. “Telebong” adalah kata-kata asli bahasa Rejang yang berarti “Terkumpul”. Setelah beberapa lama Sultan Sarduni gelar Rio Mawang berada di Renah Pelawi, dan mendapatkan pelajaran kepemimpinan dari neneknya Sultan Saktai, dan atas kecakapan dan kecerdasannya ikut menjalankan pemerintahan. Dan mengingat Sultan Saktai sudah tua, maka atas mufakat dari seluruh pemimpin Tiang Pat dan para cerdik pandai Renah Pelawi, Sultan Saktai akhirnya menyerahkan jabatan Rajo Renah Pelawi kepada cucunya yaitu Sultan Sarduni, dan ditetapkanlah Sultan Sarduni menjadi Rajo ke 2 di Kerajaan Renah Pelawi. Setelah Sultan Sarduni menjadi Raja II Renah Pelawi, maka Sultan Saktai pergi untuk kembali ketanah kelahirannya ke Pagaruyung. Beberapa riwayat berpendapat bahwa, Sultan Saktai tidak sampai ke Pagaruyung, ia hilang ghaib di sebuah gunung besar Ulu Lais, benar atau tidaknya riwayat ini hanya Allah-lah yang mengetahuinya. Sesuai dengan tradisi masyarakat, bahwa setiap yang menjadi pemimpin pemerintahan, ia harus berkeluarga, maka Sultan Sarduni dikawinkanlah dengan Puteri Sindaraya binti Rio Bitang. Sumber : http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/riwayat-sultan-sarduni-gelar-rio-mawang.html

Riwayat Rio Guting

Rio Guting anak ke 6 dari Setia Merah Depati, ketika masih kecil dan baru dapat berlari-lari bermain bersama saudara-saudaranya. Dan disaat itu ayahnya sedang mengasah Keris Pusaka Mecer Awang (keris pusaka Tubei Suku VIII-saat ini disimpan oleh keturunan Sultan Muhmad di Pungguk Pedaro), dan secara tak terduga, Rio Guting jatuh terjerembab mengenai keris Mecer Awang ditangan ayahnya, seketika itu juga Rio Guting meninggal dunia.
Akibat dari kelalaian ayahnya, maka Rio Cendeh beserta adik-adiknya menuntut kepada ayahnya agar dapat diberikan pengganti Rio Guting, dan mendengar tuntutan Rio Cendeh bersaudara serta menyesali akan kelalaiannya, maka Setia Merah Depati pergi ke Pagaruyung untuk bertapa, dan dalam pertapaannya itulah, Setia Merah Depati mendapatkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan dikarenakan ketampanannya itulah maka bayi tersebut diberi nama Bujang Ringkih (Bujang Tampan), sebagai pengganti Rio Guting. Setelah mendapatkan pengganti Rio Guting, maka Setia Merah Depati pulang ke Kutai Usang Tubei Suku VIII, dan dikarenakan isteri Setia Merah Depati telah meninggal dunia, maka untuk mengasuh Bujang Ringkih diserahkanlah untuk membesarkannya kepada adik kandungnya yaitu Ki Pandan gelar Rajo Girang Pemimpin Tubei Suku IX Muara Aman, hingga dewasa.

Riwayat Keturunan Majapahit memimpin Tiang Pat ( Sejarah Rejang )

1. PUTRI LINDUNG BULAN (Legenda tentang sungai Ketahun - Sejarah Rejang) Puteri Lindung Bulan adalah puteri bungsu dari Rajo Tiang Pat “Sultan Sarduni”, setelah menginjak remaja, banyak sekali pemuda putera-putera Raja, putera-putera Sultan, putera-putera Sunan; dari Aceh, Sulawesi dan daerah lain datang ingin meminang Puteri Lindung Bulan. Tapi anehnya, setiap ada yang meminang, selalu saja secara tiba-tiba tubuh Puteri Lindung Bulan mendapat penyakit kulit yang menular, dan hal inilah yang membuat tidak jadinya pinangan itu. Namun setelah yang meminang itu kembali kedaerah/Kerajaannya, secara tiba-tiba pula penyakit Puteri Lindung Bulan sembuh.
Melihat kejadian yang terus terjadi atas Puteri Lindung Bulan, yang menjadi aib bagi Kerajaan, khususnya bagi saudara-saudara Puteri Lindung Bulan, maka datanglah niat busuk dari saudaranya Ki Geto untuk membunuh Puteri. Dan pada suatu waktu bermufakatlah Saudara-saudaranya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, Ki Nio dan Karang Nio untuk menyingkirkan dan membunuh Puteri. Mereka memberikan alasan kepada ayahnya “Sultan Sarduni”, bahwa mereka mempunyai maksud untuk mengobati Puteri ke hutan hingga sembuh, namun maksud dan usul dari kelima 5 bersaudara ini, tidak disetujui oleh Karang Nio. Karena Karang Nio kalah suara dan mendapat ancaman dari saudara-saudaranya, maka niat jahat tersebut harus dilaksanakan dan Karang Nio sendiri yang harus membunuhnya. Akhirnya pada suatu hari, setelah mendapat izin dari ayahnya, berangkatlah Puteri bersama Karang Nio menuju hutan, hingga sampailah mereka ke hutan dipinggir sungai Ketahun (Ulu Dues), setelah Karang nio menceritakan niat busuk dari saudara-saudaranya yang lain, maka Puteri tidak dibunuhnya, melainkan dihanyutkannya Puteri dengan rakit di sungai Ketahun. Namun untuk mengelabui saudaranya yang lain dan sebagai barang bukti bahwa Puteri telah dibunuh, maka ia menyayat sedikit kulit diatas telinga Puteri dan darahnya dilumurinya dimata pedang. Setelah itu dihanyutkannyalah Puteri dengan rakit dengan diberi sangu berupa secupak beras dawai, sebuah kelapa dan seekor ayam biring serta sepotong bambu sebagai satang (pendayung rakit). Setelah tugas dilaksanakan, Karang Nio kembali ke Bendar Agung untuk melaporkan kepada saudara-saudaranya bahwa Puteri telah dibunuh dengan menunjukkan barang bukti berupa pedang yang berlumuran darah, dan kepada ayahnya dikatakanlah bahwa Puteri sedang berobat di tengah hutan, agar penyakit yang menular itu tidak menyebar dalam Kerajaan Renah Pelawi. Setelah beberapa lama Puteri Lindung Bulan hanyut di sungai Ketahun, akhirnya sampailah ia ke muara sungai Ketahun tidak berapa jauh dari laut, karena dimuara sungai itu airnya tenang dan luas, tentu tidaklah perlu memakai satang lagi, dibuangnyalah satang bambu, buah kelapa dan ayam biring tersebut kedarat, sedangkan secupak beras dawai dihamburkanya ke dalam air, sedangkan rakit dan Puteri terus hanyut hingga ke laut luas, hingga suatu pagi terdamparlah Puteri di suatu pulau “ pulau pagai dalam bahasa Rejang” atau pulau pagi. Setelah beberapa lama kemudian, sangu Puteri yang dibuangnya di muara sungai Ketahun tersebut, yaitu satang bambu akhirnya tumbuh menjadi aur kuning, buah kelapa tumbuh menjadi nibung kuning, ayam biring menjadi burung elang berantai dan beras dawai menjadi segugu. Kejadian ini hingga sekarang masih dapat dilihat di Muara Ketahun 2. Riwayat Rajo Setia Barat Indopuro (legenda 6 lubang di Muara Sangei) Pada suatu malam, Rajo Setio Barat Indopuro pergi untuk menikmati keindahan lautan dengan mengendari kapal, sampai ditengah lautan luas, ia melihat ada suatu cahaya yang terang yang memancar dari sebuah pulau, iapun memutar haluan mendekati pulau, dan ia memerintahkan kepada Hulu Balang, untuk mencari tahu sumber cahaya tersebut. Ternyata cahaya tersebut berada diatas pohon kelapa, dan disekeliling pohon tersebut banyak sekali terdapat binatang serangga dan jenis ular yang berbisa, sehingga Hulu Balang tidak dapat mendekatinya. Oleh karena keingin tahuan Rajo Setio Barat akan sumber cahaya itu, maka Rajo sendiri yang langsung menghampirinya. Dengan kesaktian Rajo Setio Barat, akhirnya Rajo dapat mendekati pohon kelapa itu, dan ternyata sumber cahaya itu adalah seorang Puteri yang cantik jelita “Puteri Lindung Bulan”, akhirnya Puteri Lindung Bulan mengikuti Rajo Setio Barat pulang ke Kerajaan Indopuro. Setelah sampai di Kerajaan Indopuro, Rajo mengundang para Ajai, para cerdik pandai dan orang-orang terkemuka di Kerajaan, untuk memperkenalkan sang Puteri, dan sekaligus menyampaikan niatnya untuk memperistri Puteri Lindung Bulan ini. Sebelum dilaksanakan pernikahan, maka dikirimlah surat untuk mohon restu dan kesediaan Rajo Jang Tiang Pat di Lebong (Sultan Sarduni) sebagai wali pernikahan ini, namun berhubung Sultan Sarduni tidak dapat menghadirinya, maka Sultan Sarduni mengutus keenam anaknya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, Ki Nio dan Karang Nio. Sebelum enam bersaudara ini berangkat, dan untuk meredam kemarahan saudara-saudaranya, Karang Nio harus berbohong kembali dan menjelaskan kepada saudara-saudaranya bahwa dahulu ia telah benar-benar membunuh Puteri Lindung Bulan, namun seperti kita maklumi, bahwa kita adalah keturunan Rajo yang memiliki kesaktian, begitu juga halnya dengan Puteri. Setelah mendengar penjelasan yang logika tersebut, maka berangkatlah keenam bersaudara ini menuju Kerajaan Indopuro, sebagai utusan Sultan Sarduni/Rajo Tiang Pat. Setelah mereka sampai di Kerajaan Indopuro dan menjelaskan identitas diri mereka, Rajo Setio Barat tidak percaya begitu saja dengan keterangan mereka, maka untuk menguji kebenarannya, maka Rajo Indopuro memanggil Puteri Lindung Bulan beserta 6 orang Puteri Kerajaan, yang didandani dengan pakaian seragam, sehingga bila dilihat sepintas lalu, sulit untuk mengenal mana Puteri Lindung Bulan. Diwaktu ketujuh Puteri tersebut berada di Balairung Sari, maka dipanggillah Ki Geto bersaudara, dengan cara bergiliran untuk menunjuk yang mana Puteri Lindung Bulan, namun tak seorangpun yang dapat membedakannya, terakhir tibalah giliran Karang Nio. Dan diwaktu Karang Nio berada dihadapan ketujuh Puteri, Puteri Lindung Bulan menyibakkan rambutnya untuk memperbaiki letak rambutnya sehingga terlihatlah bekas luka, maka dengan tidak ragu-ragu Karang Nio menunjukkan dialah Puteri Lindung Bulan itu. Setelah Rajo Indopuro yakin bahwa mereka memang benar saudara-saudara Puteri Lindung Bulan, mereka diterima dengan baik sebagai keluarga Kerajaan, sehingga pernikahan dapat dilaksanakan, dan dengan dimeriahkan dengan Kejai (tarian adat Rejang) dan tarian/kebudayaan dari daerah-daerah lain selama 7 hari 7 malam. Setelah usainya acara pernikahan ini, maka Ki Geto bersaudara berpamitan untuk pulang, dan Rajo-pun memberikan oleh-oleh sebagai tanda mata kepada mereka, masing-masing mendapatkan 1 ruas buluh telang emas, 1 tangan baju perak, 1 potong sabuk panjang 9 (setagen) dan 1 buah pencalang (sejenis perahu). Berangkatlah keenam saudara ini dan diantar oleh Rajo Indopuro, Puteri Lindung Bulan dan keluarga Kerajaan, mengarungi lautan dengan menaiki pencalang masing-masing. Setelah mereka antara terlihat dan tidak, maka berkatalah Puteri Lindung Bulan : “ Ya.. Allah, bila memang benar aku ini adalah Puteri Rajo Kerajaan Jang Tiang Pat Renah Pelawi Lebong, dan kalau benar kakak-kakak ku dahulu ingin membunuhku, datangkanlah badai dan tenggelamkanlah pencalang mereka, kecuali yang membela dan melindungi aku. Tidak lama kemudian, datanglah badai yang mengombang ambingkan pencalang mereka ditengah lautan, sehingga terbaliklah pencalang mereka, kecuali pencalang Karang Nio hingga akhirnya sampailah dia ketepi. Setelah tiba ditepi dan menyaksikan saudara-saudaranya masih terombang-ambing sambil berpegangan dengan pencalang mereka dan Karang Nio-pun berharap semoga kelima saudaranya akan terdampar (Tersangei = bahasa Rejang) didaratan ini. Tidak beberapa lama kemudian tibalah kelima saudaranya, dan menceritakan kepada Karang Nio, bahwa oleh-oleh bagian mereka telah tenggelam kedasar lautan dan pencalang mereka tersangei dimuara sungai (Muara Sangei/Sangai), mendengar itu Karang Nio menggali tanah membuat 6 buah lubang untuk tempat membagi bagiannya menjadi enam bagian sama banyak. Keenam lubang tersebut hingga saat ini masih dapat kita saksikan. 3.Riwayat Ki Geto Bersaudara Setelah menyesali akan perbuatan dan niat jahat mereka dahulu terhadap Puteri Lindung Bulan, dan karena malu, akhirnya Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, Ki Nio merasa takut untuk pulang kembali ke Kerajaan Jang Tiang Pat, mereka ingin menebus dosa dan perbuatan mereka, dan akhirnya kelima bersaudara ini berpesan kepada Karang Nio : “Keme migai belek igai, belekba ko suang moi lebong”. Jadi kelima bersaudara ini hingga hari ini tidak pernah kembali ke Lebong, mereka pergi mengembara dalam daerah Bengkulu. Setelah beberapa lama mereka mengembara, akhirnya mereka menetap disuatu daerah dan menjadi pemimpin di daerah itu, dan dimana saja mereka menetap bernamalah Banggo mereka ini dengan julukan Banggo Merigi. Merigi berasal dari Bahasa Rejang yaitu “Migai”. Ki Geto menjadi pemimpin di Kelobak Kepahyang, sedangkan saudaranya yang lain berpencar kedaerah lain. Dan akhirnya Ki Tago dan Ki Ain wafat di Pasemah Air Keruh; Ki Genain wafat di Pugung Keroi; Ki Nio wafat di daerah Lampung. Sedangkan Karang Nio, setelah Sultan Sarduni Rajo II Renah Pelawi Lebong meninggal, maka diangkatlah ia sebagai Rajo III di Renah Pelawi Lebong. 4. Riwayat Keturunan Majapahit memimpin Tiang Pat Dimasa Tiang Pat dipimpin oleh Rajo Sultan Saktai gelar Rajo Jongor, Rajo Megat, Rajo Mudo dari Kerajaan Pagaruyung, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat maju dengan pesat dan aman, tapi sementara itu Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Hayamwuruk dan Patih Gajah Mada sedang dalam kekacauan dikarenakan terjadinya perebutan kekuasaan dan pemberontakan. Dikarenakan terjadinya kekacauan itu, maka ada beberapa pemimpin Kerajaan meninggalkan Kerajaan Majapahit, dan mengembara sehingga akhirnya sampailah mereka di Kerajaan Renah Pelawi Lebong. Mereka yang mengembara tersebut antara lain adalah : 1. Biku Sepanjang Jiwo; 2. Biku Pejenggo; 3. Biku Bembo dan 4. Biku Bermano. Pada mulanya keempat Biku ini selain menyebarkan agama Budha, mereka juga sebagai orang yang memberikan nasehat kepada Rajo Tiang Pat dalam menjalankan pemerintahan, dan dengan dilibatkannya keempat Biku ini dalam pemerintahan, keadaan Jang Tiang Pat semakin maju dan berkembang dengan pesat, dan oleh karena itulah, oleh para pemimpin Jang Tiang Pat, diangkatlah keempat Biku ini sebagai pendamping untuk menjalankan pemerintahan di Tiang Pat Renah Pelawi, yaitu sebagai berikut : 1. Biku Sepanjang Jiwo sebagai pendamping Begelang Mato pemimpin Tiang I di Bendar Agung Lebong. 2. Biku Pejenggo sebagai pendamping Rio Bitang pemimpin Tiang II di Atas Tebing. 3. Biku Bembo sebagai pendamping Rio Jengan pemimpin Tiang III di Suko Negeri Tapus. 4. Biku Bermano sebagai pendamping Rio Sabu pemimpin Tiang IV di Kuto Rukam Tes. Setelah beberapa lama kemudian, maka pucuk pimpinan di Tiang II, III dan IV diserahkanlah kepada masing-masing Biku, sedangkan pucuk pimpinan di Tiang I tetap dipegang oleh Begelang Mato, hal ini dikarenakan Biku Sepanjang Jiwo kembali keKerajaan Majapahit. Sumber : Rejang-lebong.blogspot.com

Riwayat Keturunan Tubei Suku VIII (Asal desa Talang Leak)

Setelah Bujang Ringkih dewasa dan menikah di Kutai usang, ia pindah dan membuka lahan/tanah padang alang-alang (padang liak). Padang liak inilah merupakan cikal bakal terbentuknya Tubei Suku VIII (Marga Suku VIII) Talang Leak saat ini. Kembali keriwayat Bujang Ringkih, setelah beberapa lama berusaha dan berkeluarga di Padang Liak, mereka tidak dikaruniai keturunan, maka Bujang Ringkih akhirnya pergi mengembara dan menikah kembali serta menetap di Temiang Bikuk (Kerinci). Dari pernikahan yang kedua ini ia mendapatkan keturunan yaitu seorang putera yang bernama Singo Lipua, serta akhirnya mereka kembali ke Padang Liak. Dari Singo Lipua inilah berkembang menjadi keturunan Marga Suku VIII Talang Leak, atau keturunan dari pihak ayah (Rakidan gelar Rajo Chalifah) Sumber : http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/riwayat-keturunan-tubei-suku-viii-asal.html

Banggo Tubei dibagi dua (Versi Tubei VIII)

Setelah beberapa lama Karang Nio gelar Hip Nulillah menjadi Rajo ke-3 Tiang Pat, hingga akhir hayatnya ia belum sempat untuk menyerahkan jabatan Rajo kepada anak-anaknya. Dan pada saat itulah terjadi kekosongan jabatan Rajo. Sesuai dengan tradisi kerajaan, bahwa yang berhak diangkat untuk menjadi Rajo adalah anak tertua yaitu Setia Merah Depati, namun sebelum diadakan penobatan Rajo, diputuskanlah oleh para pemimpin Tiang Pat, bahwa pengangkatan Rajo harus mendapatkan fatwa dari orang tua-tua keturunan Rajo Tiang Pat, dalam hal ini adalah fatwa dari Puteri Lindung Bulan (adik kandung Rajo Karang Nio), hal ini mengingat bahwa putera Rajo Karang Nio ada dua orang yaitu Setia Merah Depati dan Ki Pandan gelar Rajo Girang. Sidang untuk mengangkat dan menobatkan Rajo Tiang Pat di Bendar Agung Lebong ini, dihadiri langsung oleh Puteri Lindung Bulan dan Rajo Setio Barat dari Kerajaan Indopuro.
Sebelum Puteri Lindung Bulan memberikan fatwa siapa yang paling patut untuk Menjadi Rajo, Puteri Lindung Bulan ingin menguji dan mengetahui tabiat dan prilaku dari kedua kemenakannya ini dengan cara memberikan hadiah yang dibawanya dari kerajaan Indopuro yang berupa : sebuah ceranah/wadah yang tutupnya bertatahkan emas dan berisi selembar sabok (stagen) panjang sembilan, sebuah buah uko (buah yang ranum berwarna merah tapi asam dan pahit rasanya), dan sebuah buah aman (buah yang berwarna kehijau-hijauan namun manis rasanya). Setelah hadiah tersebut diserahkan, Setia Merah Depati merebut terlebih dahulu tutup ceranah yang bertatahkan emas dan sebuah buah uko, sedangkan untuk Ki Pandan gelar Rajo Girang dengan sabar menunggu sisa yang ditinggalkan untuknya, yaitu tinggal berupa cerana, sabok/stagen panjang sembilan dan sebuah buah aman. Memperhatikan dan menilai kelakuan mereka ini, maka Putri Lindung Bulan berpendapat bahwa dengan sikap egois, Setia Merah tidaklah patut diangkat menjadi Raja, maka untuk menjadi Raja Tiang Pat di Bendar Agung Lebong diangkatlah Ki Pandan gelar Rajo Girang, sedangkan Setia Merah Depati diangkat menjadi Pemimpin di Karang Anyar (dusun Muara Ketayu-Sekarang). Setelah kejadian tersebut, maka saat itulah Banggo Tubei dipecah menjadi dua, yaitu Banggo Tubei Suku VIII (dikarenakan anak laki-laki dari Setia Merah Depati 8 orang), dan Banggo Tubei Suku IX (dikarenakan anak laki-laki dari Ki Pandan 9 orang) Sumber :http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/banggo-tubei-dibagi-dua-versi-tubei.html

Rajo-rajo Pemimpin Jang Pat Petuloi/Jang Tiang Pat Renah Pelawi (Versi Tubei VIII)

1. Rajo Pertama : Sultan Saktai gelar Rajo Jongor; Rajo Megat; Rajo Mudo dari Pagaruyung. 2. Rajo Kedua : Sultan Sarduni gelar Rio Mawang (cucu dari Sultan Saktai). 3. Rajo Ketiga : Karang Nio gelar Hep Nulillah (Putera Sultan Sarduni). 4. Rajo Keempat : Ki Pandan gelar Rajo Girang (Putera Karang Nio)

Riwayat dan Silsilah Banggo Bermani (Versi Tubei VIII)

Yang pertama kali menjadi Ketua/Pemimpin di Banggo Bermani di Kuto Rukam Tes adalah Rio Sabu asal Merejang dari Serawak, selanjutnya dipegang oleh Biku Bermano. Biku Bermano kawin dengan Puteri Senggang (Puteri Rajo Sultan Saktai - Rajo Tiang Pat Renah Pelawi) dan berputera 3 orang yaitu : 1. Tateak Tunggea; 2. Puteri Dayang Jinggai; 3. Tateak Sembilan. Makam Biku Bermano terdapat di Kuto Rukam Tes, yang disebut dengan Keramat Kuto Rukam.
Tateak Tunggea setelah kawin dengan Puteri Kembang Semelako, hingga beberapa lama tidak dikaruniai keturunan, maka Tateak Tunggea pergi bertapa dan dalam pertapaan itu Tateak Tunggea melihat sembilan ekor anak gajah yang bermacam-macam tabiat dan kelakuannya, dan setelah selesai pertapaan itu, maka Tateak Sembilan pulang kembali ke Kuto Rukam Tes, yang akhirnya Puteri Kembang Semelako melahirkan anak hingga berputera 9 orang, yaitu : 1. Gajah Gemeram, Ketua di Ujan Panas Padang Ulak Tanding; 2. Gajah Meram, Ketua Banggo Bermani; 3. Gajah Beniting, Ketua Batu Kalung Banggo Beringin Ilir; 4. Gajah Biring, Ketua di Bintuhan Lais; 5. Gajah Rimbun, Ketua di Cintomandi Banggo Beringin Ilir; 6. Gajah Rayo, Ketua di Panjang Ulu Lekitan; 7. Gajah Ripak, Ketua di Tanjung Raman Empat Lawang; 8. Gajah Pekik, Ketua di Jekalan Berandan Pasemah; 9. Gajah Merik, Ketua di Aur Gading Lais. Gajah Meram mempunyai 7 orang putera, yaitu : 1. Sapau Lanang; 2. Sapau Kumbang; 3. Sapau Dina; 4. Sapau Dingin; 5. Sapau Dan; 6. Sapau Negas; 7. Sapau Daun. Setelah beberapa lama kemudian, terakhir Ketua/Pemimpin di Banggo Bermani Kuto Rukam Tes dipegang oleh Depati Yakin, yaitu diperkirakan pada tahun 1911, kekuasaan Banggo Bermani diambil alih oleh pemerintahan Jurukalang, dan semenjak itulah nama Banggo Bermani diganti menjadi Marga Bermani Jurukalang. Sumber : http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/riwayat-dan-silsilah-banggo-bermani.html

Riwayat dan Silsilah Banggo Bermani Jurukalang (Versi Tubei VIII)

Yang pertama kali menjadi Ketu/Pemimpin di Marga Jurukalang adalah Rio Jengan asal Merejang dari Serawak, dan selanjutnya dipegang oleh Biku Bembo yang berkedudukan di Suko Negeri Tapus.
Biku Bembo kawin dengan Puteri Dayang Jinggai (puteri Biku Bermano), dan mempunyai 9 orang putera, yaitu : 1. Rio Taun (kawin dengan Puteri Jinor Anum); 2. Manun 3. Rio Mu-un, Ketua di Padang Jati Jurukalang; 4. Rio Apai, Ketua di Talang Useu Lais; 5. Rio Tebuen, Ketua Lubuk Puding Empat Lawang; 6. Rio Penitis, Ketua Dusun Lagan (Dusun Besar) BKL; 7. Rio Setangkai Panjang, Ketua di Tapus Jurukalang; 8. Puteri Dayang Reginang (kawin dengan Karang Nio); 9. Putri Dayang Regini. Sumber : http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/riwayat-dan-silsilah-banggo-bermani_10.html

Riwayat dan Silsilah Banggo Selupuh (Versi Tubei VIII)

Yang pertama kali menjadi Ketu/Pemimpin di Marga Jurukalang adalah Rio Bitang asal Merejang dari Serawak, dan selanjutnya dipegang oleh Biku Pejenggo yang berkedudukan di Atas Tebing. Biku Pejenggo mempunyai 2 orang putera, yaitu : 1. Tuan Bujang, Ketua di Kutau Tebing Tinggi; 2. Tuan Sepatu Hitam. Tuan Sepatu Hitam kawin dengan Puteri Sedarah Putih dari Palembang, dan menggantikan kedudukan ayahnya Biku Pejenggo dan berkedudukan di Batu Lebar Seguring/Marga Selupu Rejang; dan mempunyai seorang putera, yaitu Sepenggo Tunggea.
Sepenggo Tunggea berputera seorang, yaitu Pesenggok gelar Depati Semabung Lekat; Pesenggok gelar Depati Semabung Lekat berputera dua orang yaitu : 1. Ajai Leken (menggantikan kedudukan ayahnya dan berkedudukan di Cawang Marga Selupuh Rejang) 2. Ajai Malang, Ketua di Atas Tebing Marga Selupuh Lebong. Ajai Malang tidak mempunyai putera, maka untuk mengganti kedudukannya sebagai Ketua di Atas Tebing diangkatlah Rio Mendung (Putera Ajai Leken). Ajai Leken mempunyai 7 orang putera, yaitu : 1. Rio Penekon, Ketua di Dusun Cawang; 2. Rio Mendung, Ketua di Atas Tebing; 3. Rio Mendang, Ketua di Jengalu Seluma; 4. Rio Galang, Ketua di Empat Lawang; 5. Rio Dinding, Ketua di Renah Kandis Selupuh Baru; 6. Rio Baka, Ketua di Metiring Bengkulu; 7. Rio Dabuk. Sumber :http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/riwayat-dan-silsilah-banggo-selupuh.html

Ka Ga Nga (Sumbangan artikel dari Keluarga Tubei VIII)

Aksara KAGANGA terdiri dari 27 buah tua (19 huruf tunggal dan 8 huruf pasangan atau huruf ngibang), dan 13 tanda baca. TATA CARA PENULISAN HURUF 1. Kemiringan huruf 45 º sampai dengan 50 º. 2. Menulis dari arah kiri ke kanan, dari sudut bawah kiri kesudut kanan atas, kecuali huruf memakai garis tegak lurus permulaan atau penutupan. Garis tegak berukuran setengah dari tinggi huruf. 3. Penulisan huruf KAGANGA memiliki garis halus dan kasar, garis yang ditarik keatas halus sedangkan garis kebawah kasar atau tebal. 4. Untuk keseragaman penulisan dan agar tidak terjadi salah baca, maka penulisan harus dengan bantuan kotak-kotak pola persegi empat, contoh lihat pada halaman 52 (Aksara Rejang). 5. Setiap penulisan kata harus diatur jarak satu atau dua huruf ke kata berikutnya. 6. Awal penulisan yang menggunakan huruf Ē, E, I, O dan U harus menggunakan huruf A dengan merubah bunyinya. 7. Huruf latin yang tidak terdapat pada huruf Rejang adalah : F, V, Q, X, Z. untuk menggantinya dipergunakan huruf : F dan V dipergunakan huruf = PA Q dipergunakan huruf = KA X dan Z dipergunakan huruf = SA 8. Dalam huruf KAGANGA, tidak dikenal istilah huruf besar dan huruf kecil
HURUF TUNGGAL : 1. KA 5. DA 9. MA 13. SA 17. WA 2. GA 6. NA 10. CA 14. RA 18. HA 3. NGA 7. PA 11. JA 15. LA 19. A 4. TA 8. BA 12. NYA 16. YA HURUF PASANGAN/NGIBANG : 1. MBA 3. NDA 5. NCA 7. NGGA 2. MPA 4. NTA 6. NJA 8. NGKA TANDA BACA : 1. Mengubah bunyi huruf buah tua menjadi : I, E, O, U dan bunyi vokal rangkap : AI dan AU. 2. Mengganti beberapa konsonan : NG, N, R, M dan H. 3. Tanda bunuh atau pemati konsonan bagi yang tidak mendapat tanda pengganti yaitu : KA bunuh menjadi = K DA bunuh menjadi = D GA bunuh menjadi = G PA bunuh menjadi = P CA bunuh menjadi = C BA bunuh menjadi = B JA bunuh menjadi = J SA bunuh menjadi = S TA bunuh menjadi = T LA bunuh menjadi = L KEDUDUKAN TANDA BACA : 1. Kiri atas untuk bunyi : I, Ē, O 2. Kiri bawah untuk bunyi : U, E, AU 3. Kanan atas untuk bunyi : NG, N, M, R, AI 4. Belakang untuk bunyi : H dan pemati konsonan PENGEJAAN TANDA BACA : Buah tua yang belum mendapat tanda baca, atau masih berbunyi = A disebut Bayang KA, GA, NGA dan seterusnya Tanda baca gabung : Tanda baca gabung ini merupakan gabungan tanda baca I, E, O, U, Ē, AU dan AI dengan NG, N, M, R dan H atau tanda baca dengan tanda baca konsonan. Tanda baca Tulang (NG), Ratau (N) dan Rating (M), dipergunakan hanya diujung saja. Bila bunyi tersebut ditengan kata dan huruf berikutnya berbunyi K, G, S, depan NG, I, D, depan N, P, B, depan M, maka dipergunakan huruf pasangan yaitu : NGK, NGG, NT, ND, MP, MB, NJ. Sumber :http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/ka-ga-nga-sumbangan-tubei-viii.html

RIWAYAT TULISAN REJANG

Darimana asal usulnya tidak ada yang tahu dengan pasti dan telah beberapa abadnya tidak ada juga yang mengetahui,hanya ada cerita - cerita dan pendapat mengatakan bahwa tulisan itu datangnya dibawa oleh pedagang zaman dahulu dari Hindia bagian belakang. Tulisan Rejang sudah berada pada masa bumi Lebong masih bernama ( berjolok )Renah Kelawi, pimpinannya memakai gelar Ajai,daerahnya disebut sosokan,belum disebut marga.Sebelum datang orang dari Pagar Ruyung,dari MAjapahit dan dari Sriwijaya tulisan itu sudah ada.
Persamaan tulisan rejang terdapat di daerah-daerah Komering,Lampung,Kerinci, dan Tapanuli,perbedaannya cara ejaan,tanda-tanda dan pengaruh logat dari daerah itu masing-masing. Masuknya pendatang dari Pagar Ruyung ,Majapahit dan Sriwijaya tidak mempengaruhi tulisan Rejang. Dari Pagar Ruyung membawa tulisan Arab Melayu,dari Sriwijaya memakai tulisan Sriwijaya dan dari Majapahit tidak ada membawa tulisan. Pada masa Inggris menguasai Pesisir Bengkulu,daerah Rejang tidak termasuk jajahannya pun tulisannya tidak mempengaruhi.Pada zaman Sriwijaya ada beberapa piagam bertuliskan tulisan Sriwijaya yang diberikan pada tokoh-tokoh rakyat Rejang,tulisan Rejang dipergunakan dalam hubungan dengan kerajaan Sriwijaya. Sewaktu kesultanan Palembang ditaklukkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1821 daerah Rejang Empat Petulai tidak turut takluk. Pada tahun 1853 tentara Belanda memasuki daerah Rejang,perjalanan menuju Keban didekat Tertik dihancurkan oleh rakyat,kemudian diadakan perjanjian,bersumpah menghormati daerah masing-masing,menyerahkan orang-orang tawanan dari kedua belah pihak kepada pemerintah-pemerintahan yang berkepentingan tugasnya,perjanjian itu merupakan perjanjian persahabatan antara mereka. Kemudian berulang kali diadakan permufakatan antara Tiang Ampat ( Rejang ) dan pemerintahan jajahan Belanda.Akhirnya setelah beberapa kali mengadakan permufakatan mulanya di Nagai Ameun ( Lebong ) kemudian dan terakhir di Temedak ( Ds. Kelobak Kepahyang ), demi keselamatan kedua belah pihak Tiang Ampat ( Ampat Petulai ) akan tunduk kepada pemerintahan Belanda dengan syarat :
  1. Adat dan Pusaka tidak boleh di rusak dan diganggu
  2. Rejang Lebong dimasukan kedalam keresidenan Palembang
Syarat-syarat tersebut diterima baik oleh pihak Belanda tahun 1860. Controlir pertama di Rejang A.Prius Vander Hoeven di tempatkan kedudukannya di Ds.Tapus ( Lebong ). Dalam masa itu tulisan Rejang masih beredar,bersama-sama tulisan arab melayu,pihak Belanda memakai huruf latin. Berkisar tahun 1890 seterusnya tulisan Rejang mulai tidak beredar lagi,sedikit sekali yang mempelajarinya. Pada tahun 1925 tulisan Arab Melayu mulai pula menghilang. Tanggal 6 Februari 1904 Rejang Lebong dimasukkan ke dalam Keresidenan Bengkulu. tulisan rejang ada pula yang menamakan Tulisan Rencong/Ulu. Demikianlah kisah sekilas riwayat tulisan Rejang Sumber : disadur dari Buku Belajar Menulis dan Membaca Tulisan Rejang Oleh A.Sani 1982

AMORPHOPHALLUS CAMPANULATUS BL

AMORPHOPHALLUS CAMPANULATUS BL. Di Prop. Bengkulu di mana Tanah Rejang berada, bisa di jumpai 4 jenis bunga bangkai (Bungei Kibut dalam bahasa Rejang). Keempatnya itu adalah : 1. Amorphophallus bulbifer, Bunga bangkai jangkung 2. Amorphophallus titanium, Bunga bangkai raksasa 3. Amorphophallus campanulatus 4. Amorphophallus viridis Dari sedemikian banyak species bunga bangkai itu, baru empat yang pernah di laporkan tumbuh di Tanah Rejang, yang paling besar dan paling terkenal di dunia adalah Amorphophallus Titanum, sedangkan yang lainnya tak lah begitu populer. Berikut ini akan di kenalkan Amorphopalus Campanulatus, bunga bangkai jenis ini tidak hanya tumbuh di Tanah Rejang tapi tumbuh juga di pulau Jawa, bahkan pernah di laporkan tumbuh di Sulawesi.
Botani Klasifikasi Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Arales Suku : Araceae Marga : Amorphophallus Jenis : Amorphophallus campanulatus Bl. Nama umum/dagang Nama daerah : Suweg Jawa : Suweg (Jawa) Diskripsi : Semak, tahunan, tinggi ± 1 m. Habitus : Lunak, silindris, membentuk umbi, hijau. Batang : Tunggal, menjari, tepi rata, ujung lancip, pangkal berlekuk, panjang + 50 cm, lebar ± 30 cm, tangkai memeluk batang, silindris, panjang ± 30 cm, hijau bercak putih, hijau. Daun : Majemuk, berkelamin dua, bentuk bongkol, panjang + 7,5 cm, bakal buah melingkar rapat, kepala putik dua sampai liga, kepala sari melingkar, mahkota merah, merah. Buah : Buni, lonjong, merah. Biji : Bulat, merah. Akar : Serabut, putih kotor. Khasiat Umbi Amorphophallus campanulatus berkhasiat sebagai obat sakit perut dan obat luka. Untuk obat sakit perut dipakai + 15 gram umbi segar Amorphophallus campanulatus, dicuci, ditumbuk sampai lumat, kemudian ditempefkan pada perut sebagai tapal. Kandungan kimia Umbi Amorphophailus campanulatus mengandung saponin dan flavonoida, batang dan daunnya mengandung saponin dan polifenol. Bunga Amorphophallus campanulatus Bl Source : http://iptek.apjii.or.id/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku2/2-023.pdf http://www.geocities.com/RainForest/Canopy/8519/botany.html http://photos-b.ak.facebook.com/photos-ak-sf2p/v140/49/28/775463346/a775463346_185949_1292.jpg http://www1.plala.or.jp/maui/starch/elephant.htm

AMORPHOPHALLUS BULBIFER ( Vodoo Lily )

AMORPHOPHALLUS BULBIFER Voodoo Lily In Rejang Land we can found four species amorphophalus, one of them is Amorphophallus Bulbifer. Eventhoug the flowers not as popular as titan arum, but this flowers more beautifull and have soft color. So that why in other country this plant call with vodoo lily i think. Even many native people in Rejang Land often find this plant in their plantation, but they are not interesting coz they think this plant unusefull, like other wild plant have growth.
Recently, it is difficult to find this plant in native plantation, but most possibility to find at rain forest at rejang land or other area rain forest of sumatra, like in Kerinci Seblat National Park. A few photo below try to discribe the vodoo lily, but this is taken from Rejang Land Outside, coz I dont find documentation from Rejang Land Area. but many scientist report they found this plant in Rejang Land. Reference: http://rejang-lebong.blogspot.com http://www.rareflora.com/amorphophallusbul.htm http://www.worldplants.com/amorph.htm http://www.aroid.org/gallery/kozminski/Amorphophallus/bulbifer.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...