Orchid Of Rejang Lebong

Oberonia subanajamensis JJSm, 1928 Is one of hundreds species of orchids in Rejang Lebong, read more about orchid of rejang lebong

Rejang Tribe

Rejang is unique from other tribes, one of the unique customs and language, Read more for Rejang tribe..

Armophophallus

many species of Amorphophallus grown wild in Rejang Land,one of them Amorphophallus titanum is the biggest Armophophallus. Read more

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tari Persembahan ( Tari Penyambutan )

Tarian yang dilakukan untuk menyambut tamu tamu angung,tarian ini merupakan tarian baru yang dibuat sedemikian rupa mirip dengan tari kejei
foto : Dokumentasi sanggar Bumei Pat Petulai

Desa Tanjung Gelang ( Trans Derati )

Desa Tanjung Gelang atau dulunya dikenal dengan nama Tran Derati,karena memang dulunya daerah ini merupakan tempat transmigrasi. Desa Tanjung Gelang yang berada di Kecamatan Kotapadang jumlah penduduknya sekitar 500 kepala keluarga yang menyebar di talang-talang atau kebun-kebun, yang sebagian besar merupakan penduduk asli Kotapadang, sedangkan sisanya merupakan warga Transmigrasi yang masih bertahan.
Desa Tanjung Gelang bisa dikatan merupakan daerah terujung di kotapadang yang berbatasan dengan daerah muara saling,penduduk Desa Tanjung Gelang umumnya bermata pencahrian sebagai petani,yaitu petani karet dan coklat. oleh sebab itu sepanjang jalan menuju desa ini akan terlihat areal perkebunan karet dan coklat.
Desa yang berjarak kurang lebih 15 Km dari ibukota kecamatan ini merupakan daerah terpencil yang sangat sulit untk dijangkau,dikarenakan jalan menuju Desa ini masih merupakan jalan tanah dan bertebing,oleh sebab itu bila hari hujan,sangat sulit untuk memasuki daerah ini

Road Show Ke - 4 Pelayanan Kesehatan KB Gratis dan Percepatan Pembentukan Desa Siaga ( Desa Tanjung Gelang )

Kegiatan Road Show Pelayanan Kesehatan KB Gratis dan Percepatan Pembentukan Desa Siaga sepertinya sudah menjadi agenda rutin Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong,kegiatan yang meberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat dan juga usaha dalam percepatan pembentukan desa siaga.Kegiatan ini mengerahkan semua puskesmas - puskesmas yang ada di kabupaten rejang lebong untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang ada di luar wilayah mereka seperti yang dilakukan puskemas Sumber Urip ini.
Puskesmas Sumber Urip yang kali ini kebagian memberikan pelayanan kesehatan gratis di Desa Tanjung Gelang ( Tran Derati ) Kecamatan Kotapadang,berupa pelayanan pengobatan umum,pelayanan KB ( Implan,Pil KB ),penimbangan Balita,pemeriksaan dan pemberian imunisasi pada ibu hamil dan juga sunat masal.
dalam kegiatan ini juga diberikan penyulahan kesehatan kepada masyarakat dan upaya pembentukan desa siaga. dengan kegiatan seperti ini dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara optimal,khususnya kepada masyarakat-masyarakat yang membutuhkan terutama masyarakat-masyarakat yang jauh dari pusat-pusat kesehatan seperti masyarakat Desa Tanjung Gelang ini

Road Show Ke - 4 Pelayanan Kesehatan KB Gratis dan Percepatan Pembentukan Desa Siaga

Hari ini ( Rabu 29 Oktober 2008 ) kembali diadakan kegiatan sosial Road Show Pelayanan Kesehatan KB dan Percepatan Pembentukan Desa Siaga Ke 4 yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong Beserta Tim Penggerak PKK Kab Rejang Lebong yang merupakan juga kegiatan Bakti Sosial Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan yang ke 14 tahun 2008,kegiatan road show kali ini berfokus pada 2 kecamatan yaitu kecamatan Kotapadang dan Kecamatan Sindang Beliti Ilir
sama seperti kegiatan bakti shosial sebelumnya kegiatan ini diikuti oleh seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Rejang Lebong, Tim PKK, Dinas KB,dan dibantu oleh Akademi Keperawatan Curup.
Puskesmas Sindang Beliti Ilir
dalam kegiatan ini acara pembukaan dilaksanakan di Kecamatan Sindang Beliti Ilir, dan kegiatan bakti sosial meliputi pelayan KB,Suntik KB,Pemasangan Implant,Sunatan Masal, Donor Darah,Pengobatan Umum,Kesehatan Gigi dan Mulut,yang dipusatkan di Puskesmas Sindang Beliti Ilir.
adapun daerah-daerah yang mendapat kunjungan Road Show ini meliputi 2 kecamatan yaitu kecamatan kotapadang meliputi Tran Lubuk Mumpo,Sukarami,Kotapadang Baru,Taba anyar,Derati,Tanjung Gelang,Dusun Baru,Sukakarya,Durian Mas dan Kecamatan Sindang Beliti Ilir meliputi LubukBingin Baru,Sukamerindu,Periang,Lubuk Belimbing I,Lubuk Belimbing II,Balai Buntar,Merantau,Lubuk Tunjung

Genangen Pucuk Bulie ( Sayur Daun Lumai )

Genangen istilah indonesianya mungkin bisa disamakan dengan sayur bening yang diberi bumbu pedas (cabe) atau lebih mirip dengan samba ujak . namun untuk jenis genangen macam sayuran yang di pakai bisa apa saja,diantaranya yang sering digunakan oleh orang rejang adalah sayuran seperti kacang panjang, terong,ceriwis dan daun lumai.
Genangen pucuk bulie atau genangen daun lumai,yang dimasak dengan menggunakan bumbu-bumbu sederhana cabe,kemiri,tomat,serai,kunyit, dan untuk percanya biasanya digunakan ikan salai. satu lagi masakan khas rejang yang menggunakan Daun Lumai ini adalah yang dinamakan dengan UPIE, mirip dengan genangen cuma rasanya tidak pedas karena tidak diberi cabe,dan bumbunya pun lebih sedikit yaitu jahe dan kemiri yang telah di bakar serta ditambahkan sedikit nasi.

Kota Curup Hari Ini ( 28 Oktober 2008 )

Inilah gambaran Kota Curup hari ini (Selasa 28 Oktober 2008 )dimana gambar - gambar ini diambil sekitar jam 11 siang,suasana tenang dan sepi selalu menjadi ciri khas kota curup pada jam - jam begini,keramaian akan kembali muncul ketika anak-anak sekolah pulang dan berangkat sekolah. (gbr. Bundaran Dwi Tunggal)
gbr. Jalan Merdeka depan Masjid Jamik gbr. Jalan Merdeka ( Hotel/penginapan Nusantara ) gbr. Jalan Merdeka dekat simpang menuju lapangan setia negara gbr. Jalan Merdeka depan SDN 2 Center Gbr. Jalan Sukowati depan Bank Bengkulu Gbr. Bukit Basa dilihat dari Jl. Sukowati grb. Jalan Sukowati dekat Mesjid Agung gbr. Jalan Sukowati Simpang dekat kediaman Bupati RL gbr. Rumah Dinas Kediaman Bupati RL grb. Sukowati depan kantor PMI gbr. Sukowati depan Dinas Pendidikan Kab. RL gbr. Sukowati depan Pemda Kab. RL gbr. Jalan Sukowati Depan Kantor Samsat ( Sukowati Ujung )

Sejarah Rejang

Asal mula masyarakat rejang yang ada di Bengkulu menurut cerita nenek mamak atau orang-orang tua (Pak Salim dan Masyarakat Topos) adalah pertamanya ditemukan di Desa Siang, muara sungai ketahun. Pada masa itu pemimpin masyarakat rejang adalah Haji Siang. Dimana sebelum Haji Siang, lima tahap diatas Haji Siang orang rejang sudah ada. Pada masa haji ini ada emapat orang haji yaitu Haji Siang, Haji Bintang, Haji Begalan Mato dan Haji Malang.Karena mereka berempat tidak bisa memimpin dalam satu daerah, akhirnya mereka membagi wilayah kepemimpinan. Haji Siang tinggal di Kerajaan Anak Mecer, Kepala Sungai Ketahun, Serdang Kuning. Haji Bintang ada di Banggo Permani, manai menurut istilah rejangnya yang sekarang terletak di Kecamatan Danau Tes. Haji Begalan Mato tinggal di Rendah Seklawi atau Seklawi Tanah Rendah. Kerajaan Haji Malang bertempat tinggal diatas tebing, sekarang namanya sudah menjadi Kecamatan Taba' Atas.
Dalam keempat kepemimpinan ini mereka ada sebuah falsafah hidup yang diterapkan yang itu pegong pakeui, adat cao beak nioa pinang yang berartikan adat yang berpusat ibarat beneu. Bertuntun ibarat jalai (jala ikan), menyebar ibarat jala, tuntunannya satu. Jika sudah berkembang biak asalnya rejang tetap satu. Kenapa ibarat beneu? beneu ini satu pohon, tapi didahan daunnya kait-mengait walaupun ada yang menyebar atau menjalar jauh. Walaupun pergi ketempat yang jauh tapi tahu akan jalinan/hubungan kekeluargaannya. Bisa kembali lagi darimana asal mereka berada. Pegong pakeui juga mengajarkan bahwa kita sebagai manusia mempunyai hak yang sama. Jika kita sama-sama memiliki, maka kita membaginya sama rata. Jika kita menakar (membagi), misalnya membagi beras, kita menakarnya sama rata atau sama banyaknya. Jika kita melakukan timbangan, beratnya harus sama berat. Itulah pegong pakeui orang rejang. Amen bagiea' samo kedaou, ameun betimbang samo beneug, amen betakea samo rato. Artinya jika membagi sama banyak, jika menimbang sama berat, jika menakar sama rata). Itulah cara adat rejang. Dengan persebaran dan berkembang biaknya dari empat kerjaan ini mereka mencari tempat-tempat di kepala air (hulu sungai) untuk dijadikan tempat tinggal. Seperti yang ada sekarang ini yaitu Rejang Aweus, Rejang Lubuk Kumbung yang ada didaerah Muaro Upit, Rejang Lembak (Lembok Likitieun, Lembok Pasinan) dan termasuk juga Rejang Kepala Curup. Dasar persebaran ini adalah dari Rio (belum jelas Rio ini siapa dan keturunan darimana). Dipercaya Rio berasal dari Desa Topos yang pecahan kebawahnya adalah Tuanku Rio Setagai Panjang. Rio Setagai Panjang ini memiliki tujuh orang bersaudara dan berpencar untuk mencari tempat tinggal. Diantara dari tujuh Rio tersebut dan persebarannya di Bengkulu adalah sebagai berikut:
  • Rio Tebuen ada di Desa Lubuk Puding, Pasema Air Keruh
  • Rio Penitis ada di Curup. daerah Selumpu Sape
  • Rio Mango' keturunannya sekarang mulai dari Pagar Jati sampai ke hulu nya yaitu Desa Gading, Padang Benar dan Taba Padang
  • Rio Mapai sekarang keturuanannya ada di Kecamatan Lais, itulah asal orang rejang yang terletak di bagian utara
Suku Rejang memiliki lima marga, yaitu Jekalang, Manai, Delapan, Sembilan dan Selumpu. Lima marga inilah sekarang yang ada di tanah rejang yang ada di Bengkulu. Jika ada yang pindah ketempat lain mereka akan tetap berdasarkan lima marga tersebut. Walaupun mungkin banyak orang-orang rejang yang ada di Bengkulu sudah tidak tahu lagi mereka masuk kedalam marga apa. Dikatakan oleh orang tua dahulu pecua' bia piting kundei tanea' ubeuat, pecua bia' piting kundei tanea' guao', istilah rejangnya mbon stokot, 'mbar-mbar ujung aseup, royot kundeui ujung stilai. Artinya masih ada asal usul yang menyangkut tanah lebong, walau dia berpencar kemanapun. Dari kepercayaan yang ada, mereka percaya asal mula rejang itu satu. Tidak ada bibitnya (asal usulnya) dari orang lain. Semuanya berasal dari Ruang Lebong atau Daerah Lebong yaitu dari Ruang Sembilan Sematang. Walaupun sekarang orang rejang atau suku-suku rejang sudah menyebar dipelosok nusantara ini ataupun diluar negeri sekalipun. Sumber :http://blog.gekkovoices.com/search/label/On%20Site

Arap ( Parkia speciosa ? )

Arap biasa orang rejang menyebutnya namun ada juga yang menyebutnya dengan nama petai arap,kenapa di katakan petai karena memiliki bentuk sama dengan petai, namun petai ini memiliki ciri khas dibanding dengan petai - petai(Parkia speciosa) kebanyakan. admin pun kurang tahu pasti apakah ini termasuk yang di sebut dengan Parkia speciosa atau bukan, bila di bandingkan dengan petai-petai lainnya, petai arap ini memiliki ciri ciri diantaranya :
1. pohonnya lebih besar 2. ukurannya yang lebih besar ( lebar ) dan panjang 3. panjangnya kurang lebih 30-35 cm 4. lebarnya kurang lebih 5 cm 5. jumlah bijinya dalam satu papan ( keping )mencapai 15-20 biji 6. ukuran buahnya lebih besar dan terlihat gemuk 7. kulit tebal dan halus 8. yang sangat menjadi ciri khas dari petai ini adalah rasanya yang berbeda dengan petai lainnya yaitu tidak kelat namun terasa agak manis 9. memiliki bau yang tidak menyengat seperti petai-petai lainnya masyarakat rejang lebih menyukai petai ini untuk di jadikan lalapan, karena baunya yang tidak begitu menyengat, dan memiliki rasa manis,selain buahnya, bakal buahnya(putik) pun sering dijadikan sebagai lalapan yaitu dimakan mentah. petai ini tidak di tanam atau sengaja di tanam, melainkan tumbuh dengan sendirinya di hutan-hutan kabupaten rejang lebong, namun sayangnya petai arap ini juga sudah susah untuk ditemukan, dikarena tidak ada yang menananmnya.

Permainan Tradisional Anak-Anak Rejang

Bobot Bobot ini terbuat dari 2 batang kayu dengan panjang sekitar 150 cm (dapat digenggam jemari anak), kemudian di bagian bawahnya sekitar 100 cm dipalangkan kayu yang sama dengan ukuran panjang sekitar 50—75 cm. Gunanya adalah untuk tempat menarik kayu yang sudah diikat dengan rotan atau tali akar. Bobot ini sangat digemari anak-anak Rejang di Lebong, karena kebanyakan orangtuanya sepanjang hari. Bahkan, ada yang berbulan-bulan tinggal di kebun atau ladang. Sehingga anak-anak yang ditinggalkan di rumah di dusun (sebutan untuk kampung), harus mencari kayu bakar sendiri di pinggir-pinggir hutan. Jadi, anak-anak masyarakat Rejang harus dapat hidup mandiri kalau di tinggal di dusun.Biasanya, mereka mencari kayu bakar tidak sembarangan menebang kayu.
Kayu yang dipilih seperti kayu nilo atau kayu-kayu yang sudah mati. Lalu mereka potong seukuran 3—4 meter. Kemudian ditarik dengan Bobot ke rumah masing-masing. Kebiasaannya mereka mencari kayu sepulang dari sekolah dan beramai-ramai. Sedangkan Bobot ukuran lebih besar, biasanya digunakan oleh orangtua (orang dewasa). Bentuknya mirip, hanya ukurannya (ukuran kayu) lebih besar, sebab Bobot yang ukuran lebih besar biasanya ditarik oleh kerbau yang membawa kayu-kayu balok dari tengah hutan. Perbedaannya, antara Bobot kecil (untuk anak-anak) dan Bobot besar terletak di bagian ujung bagian atas. Bobot besar harus ada kayu yang melengkung dihubungkan antara kedua kayu bulat Bobot. Karena, kayu yang melengkung itu ketika ditarik oleh kerbau, bisa melekat di tengkuk kerbau. Namun, harus ditambahkan tali yang seakan-akan melilit di leher kebaru. Maksudnya, agar Bobot tidak melorok dan tetap di tengkuk kerbau. Ceu Cet Permainan Ceu Cet ini hampir mirip dengan permainan petak umpet. Artinya Ceu Cet adalah melompat-lompat dari satu kota ke kotak lainnya. Bentuk permainannya adalah melompat ke kotak-kotak yang sudah dibuat dengan garis di tanah. Kenapa harus di tanah? Karena sebelum pemainnya melompat ke setiap kota yang tersedia, si pemain harus melemparkan sebuah batu berbentuk ceper ke masing-masing kotak yang ada.Jika lemparan batu mengenai garis, maka dianggap dis dan akan dilanjutkan dengan pemain yang lainnya. Demikian seterusnya. Begitu juga kalau kakinya waktu melompat dari satu kotak ke kotak lain mengenai garis, iapun dianggap dis. Jumlah pemainnya tidak terbatas dan tidak menggunakan waktu. Sembunyi Di Terang BulanPermainan jenis ini hanya dilakukan saat terang bulan. Peralatannya hanyalah kayu bakar yang sudah dipotong-potong, kemudian disusun dari bawah ke atas. Biasanya di halaman rumah. Tinggi susunan kayu bakar, biasanya melebihi tinggi badan anak-anak usia 10-13 tahun. Cara bermainnya, mereka memulai dari suten (suit). Siapa yang kalah untuk beberapa saat harus menutup mata. Kemudian, mencari teman-temannya di antara susunan kayu bakar yang mereka buat. Permainan ini dilakukan anak laki-laki dan perempuan. Biasanya mereka lakukan setelah pulang mengaji atau menjelang tidur.Ketika yang kalah (si pencari) menemukan temannya di dalam tumpukan kayu bakar yang disusun, ia harus menebak, siapa gerangan yang ada di dalam. Jika ia salah menebak, maka ia tetap kalah. Demikianlah seterusnya. Eket Pun Pisang Permainan Eket Pun Pisang (Eket=rakit, Pun=batang/pohon, Pisang=pisang). Permainan ini dilakukan anak-anak Rejang di Lebong di Bio Tik (kali/sungai kecil) yang ada di sekitar dusun mereka atau di sekitar Danau tes. Kadang kala mereka melakukan perlombaan, siapa yang cepat sampai di tempat tujuan yang sudah ditentukan.Eket Pun Pisang dibuat dari beberapa batang pisang yang dipotong dengan ukuran panjang yang sama. Kemudian batang-batang pisang itu ditusuk dengan kayu atau bambu dengan tujuan agar batang-batang pisang itu menyatu. Ada pula yang menambahkan ikatan tali, agar rakitnya itu kuat. Eket Pun Pisang, sering juga digunakan untuk menyeberangi Bioa Ketawen (Air Ketahun), karena keterbatasan jumlah perahu yang ada. Kalau pun ada, biasanya yang punya tidak mau meminjamkan kepada anak-anak yang suka bermain di air.Permainan ini sangat terkenal di Kotadonok, Tes, Turung Tiging, Turan Lalang, Talangratu, Tapus, Talangbaru dan Tanjung.SlulutPermainan ini sangat digemari anak-anak Rejang di Lebong, terutama di dusun mereka banyak tebing. Slulut (bersilancar dengan pelepah daun pinang) menggunakan pelepah pinang yang tua yang sudah jatuh. Pelepah daun pinang itu bagian daunnya dipotong dan tinggal beberapa centimeter untuk pegangan.Satu pelepah daun pinang itu bisa dinaiki sekitar 3—4 anak. Dan yang paling depan menjadi sopir memegang tanggai pelepah daun pinang. Mereka bia bermain di tanah yang miring. Artinya, tanah yang bisa membuat mereka merosot dari atas ke bawah. Permainan itu sangat mengasyikkan bagi anak-anak terutama di Kotadonok, Talangratu, Rimbo Pengadang, dan Tapus. Sumber: http://tunlebongblogspotcom-emel.blogspot.com/2008_09_01_archive.htm thank to : http://rejang-lebong.blogspot.com

Penangkaran Kacang Tanah PRIMATANI Rejang Lebong

Kabupaten Rejang Lebong dikenal sebagai penghasil kacang tanah di Provinsi Bengkulu. Setiap pengunjung yang datang ke Kabupaten Rejang Lebong, pulangnya hampir selalu membeli oleh-oleh kacang tanah yang dikenal dengan sebutan "Kacang Curup", meskipun kenyataannya tidak semua "Kacang Curup" yang dijual menggunakan bahan baku dari Kabupaten Rejang Lebong. Kenyataan ini menjadikan perdagangan kacang tanah di Kabupaten Rejang Lebong cukup lancar. Tak heran jika "Kacang Curup" sudah menjadi ikon Kabupaten Rejang Lebong. Berdasarkan hasil wawancara dengan pedagang oleh-oleh yang ada di Curup, pada saat-saat kekurangan bahan baku, pedagang mencari kacang tanah dari kabupaten lain seperti Kabupaten Bengkulu Utara atau Bengkulu Selatan.
Mengingat perdagangan kacang tanah di Kabupaten Rejang Lebong cukup lancar, usahatani kacang tanah menjadi peluang bisnis yang menggiurkan bagi petani. Namun demikian peluang tersebut tidak dapat ditangkap dengan baik di Kabupaten Rejang Lebong. Tidak terpenuhinya permintaan kacang tanah oleh petani Kabupaten Rejang Lebong karena produktifitas yang rendah yang dihasilkan oleh petani. Hasil diskusi dengan petugas lapang maupun petani setempat diketahui bahwa petani sudah biasa menanam kacang tanah, namun produksi yang dicapai relatif rendah yang diduga karena penggunaan bibit dari varietas lokal yang telah ditanam berulang-ulang. Menurut kepala BPTP Bengkulu Dr. Tri Sudaryono, varietas tanaman kacang tanah yang ditanam terus menerus akan mengalami penurunan daya hasil karena proses heterosis. Untuk itu perlu dilakukan pergantian varietas baru yang memiliki daya hasil tinggi.Image Menangkap peluang pasar kacang tanah yang cukup baik khususnya di Kabupaten Rejang Lebong, Gapoktan "Prima Usaha" Prima Tani Desa Air Bening Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong dengan bimbingan BPTP Bengkulu dan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong melakukan penangkaran bibit kacang tanah guna mendapatkan bibit kacang tanah yang pertumbuhan dan produksinya cukup baik. Produksi kacang tanah hasil penangkaran yang dipanen pada tanggal 4 Februari 2008 dibandingkan dengan produksi kacang tanah berdasarkan deskripsinya seperti terlihat pada tabel.
Kacang tanah yang ditanam di lokasi Prima Tani Desa Air Bening Kabupaten Rejang Lebong berumur lebih panjang ± 10 hari bila Kepala BPTP Bengkulu (Dr. Ir.Tri Sudaryono, MS) dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Rejang Lebong (Ir. RosihanYT, M.Si) saat panen kacang tanah dibandingkan dengan deskripsinya. Umur yang lebih panjang ini karena lokasi penanaman terletak di dataran tinggi (1.000 — 1.100 m dpl) dengan iklim yang relatif dingin, sementara tanaman kacang tanah dapat dipanen lebih cepat bila ditanam di dataran rendah. Dampak yang diperoleh dari penangkaran kacang tanah yang telah dilakukan di desa Air Bening Kecamatan Bermani Ulu Raya bagi Prima Tani adalah meningkatnya jumlah petani yang menangkarkan kacang tanah dari seorang petani dengan luas lahan 0,3 ha menjadi 4 prang petani dengan luas lahan 1,0 ha. Bagi pemangku kepentingan di daerah seperti Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rejang Lebong, dampak yang diperoleh berupa terbantunya pembinaan petani terutama petani kacang tanah dan rasa kebanggaan dengan keberhasilan tersebut yang ditunjukkan dengan dikoleksinya sampel masing-masing varietas kacang tanah yang ditangkarkan 0,25 kg. Koleksi ini digunakan sebagai bahan pameran bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rejang Lebong. Dengan adanya penangkaran benih kacang tanah ini, efek ke Penyerahan benih kacang tanah hasil penangkaran oleh Kepala BPTP Bengkulu ke ketua Gapoktan. depan yang akan diharapkan terjadi yaitu, tersedianya benih kacang tanah yang dapat dijadikan sumber produksi kacang tanah bagi kota Curup yang dikenal dengan ikon kacang curupnya. Sebagai sumber teknologi, BPTP Bengkulu akan semakin dihargai keberadaannya. Sebagai contoh penghargaan kepada BPTP Bengkulu adalah diberikannya kesempatan Kepala BPTP Bengkulu untuk menyerahkan kacang tanah hasil penangkaran kepada ketua gapoktan Prima Usaha pada saat acara Bedah Kampung yang diadakan di desa tetanggga lokasi Prima Tani yaitu desa Babakan Baru Kecamatan Bermani Ulu Raya pada bulan Maret 2008. Acara bedah kampung itu sendiri diresmikan pelaksanaannya oleh Bupati Kabupaten Rejang Lebong Suherman, MM. Source: http://primatani.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=229&Itemid=66

Profil Komunitas Marga Jurukalang

Marga Jurukalang Jurukalang adalah salah satu induk Marga Rejang berasal dari kata Rejang “kalang/galang” Jhon Marsden (1757-1779) menyebutnya Joorcallang. Jurukalang merupakan tempat kedudukan kepala Marga atau simpul dari empat Petulai atau merupakan kedudukan pusat Bang Mego/Marga Rejang yaitu di Desa Topos (tapus) hal ini diperkuat oleh Memorial Van Over Gave dan Over Name Resident Ross Van Raads Hoven pada tahun 1866 bahwa Conseluor Fruis Van Der Hoven dan Pesirah Tiang IV Ratus Salam pernah berkedudukan di Marga Jurukalang.
Marga Jurukalang (joorcalang) yang berasal dari kata Galang ini adalah salah satu marga yang ada di Kabupaten Lebong secara geografis terletak di 3º40’LS dan 100º20’ BT secara fisik berada di bagian timur Kabupaten Lebong terdiri dari 11 Desa Administratif yang berada di 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Rimbo Pengadang dan Kecamatan Lebong Selatan. Dengan jumlah penduduk yang ada di Jurukalang sebanyak 11.567 jiwa dengan pertambahan penduduk rata-rata 22 % pertahun ini akan membawa implikasi langsung dengan luasan lahan kelola untuk kebutuhan penduduk yang 86 % penduduk yang ada di Jurukalang bermata pencarian sebagai Petani dan Berkebun. Secara georafis Jurukalang terletak di Bagian Timur Lebong, atau berada di bagian Hulu Sungai ketahun. Marga Jurukalang memiliki hutan adat yang di sebut sebagai hutan Marga, Kawasan hutan Marga ini meliputi semua kawasan Buffer Zone Hutan Batas Bosh Wezen (BW),namun saat ini kawasan hutan Marga ini telah beralih fungsi sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Cagar Alam Danau Tes dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) namun masyarakat adat Jurukalang masih mengangap kawasan hutan ini sebagai hutan adat. Dalam proses menjaga hutan masyarakat adat Jurukalang mempunyai tata aturan dan larangan antara lain : Kiyeu Setimbang Alam (larangan untuk menebang kayu di spadan sungai)Imbo Keramat (hutan keramat/Hutan Lindung Adat) kawasan ini biasanya terdapat kuburan tua, Situs peninggalan, air terjun (Telun) dll.Denda ½ Bangun (denda ini ½ bagi orang yang menebang pohonàdari denda membunuh orang Sialang/Pohon Lebah.Kedurai, Mengeges (Ritual Adat sebelum membuka hutan bagi peruntukan lahan kelola). Dalam peradaban Rejang Marga Jurukalang ini adalah Marga induk dan di anggap sebagai marga yang dituakan, simpul dari beberapa Marga dan beberapa kali Pesirah (Pemimpin Marga) Jurukalang sebagai pimpinan induk dari beberapa marga yang ada di Lebong, Marga Jurukalang ini terbentuk pada saat Ritual penebangan kayu Benuang Sakti berasal dari kata aktivitas yang dilakukan oleh anak suku Jurukalang. pada penebangan kayu tersebut yaitu sebagai Juru Galang kayu. Menurut sejarah secara turun temurun Marga Jurukalang ini di bentuk oleh Biku Bembo terbentuk kira-kira abat ke V Masehi yang mengantikan Ajai Siang kemudian berkedudukan di Suko Negeri Tapus, Marga ini merupakan gabungan dari beberapa Kutai yang ada di jurukalang seperti Kutai Titik, Kutai Sipang Pat, Kutai Donok, Kutai Mawua dll. Dalam keseharian suku bangsa Jurukalang menggunakan bahasa asli Rejang yaitu Jang Lebong, agama yang dianut oleh penduduknya adalah agama Islam, namun pada beberapa aktivitas keagamaan seperti pada kematian, pernikahan adalah perpaduan antara agama dan adat. Prosesi ini seperti berdo’a atau tahlilan masyarakatnya masih melaksanakan sedekah dengan menggelar beberapa hidangan, begitu juga pada proses perkawinan masyarakatnya masih pamit dengan roh para leluhur. Selain dalam perkawinan dan kematian masyarakat Jurukalang mengenal juga beberapa kearifan adat yang berhubungan dengan alam dan kepercayaan terhadap kekuatan gaib seperti : 1. Kedurai Agung adalah ritual atau kegiatan untuk mengusir bahala atau wabah penyakit 2. Mundang Biniak adalah ritual atau upaya untuk meningkatkan hasil pertanian terutama padi 3. Mulang Apei adalah kegiatan pulang kampung atau pulang ketempat tanah leluhur secara bersama • Nama-nama Desa Administratif No Nama Desa Jumlah penduduk/warga (jiwa) Laki-laki Perempuan KK Luas Desa Desa Bandar Agung 417 312 187 4800 HaDesa Tapus Desa Suka Negeri Desa Talang Baru Desa Talang Donok Desa Tanjung Bajak Desa Rimbo Pengadang Desa Air Dingin Desa Suka Sari Desa Talang Ratu Desa Kota Donok SARANA DAN PRASARANA MARGA JURUKALANG A. Sarana dan Prasarana Ibadah dan Balai Pertemuan Berapa jumlah sarana ibadah di Marga ini ? Di marga ini terdapat 10 buah Masjid di tiap-tiap desa ada satu masjidapakah di dusun ini terdapat balai pertemuan? Tidak Ada, biasanya dalam beberapa kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat kegiatan tersebut dilakukan atau dilaksanakan di Masjid dan Rumah Pribadi Kepala Desa serta sesekali di buat Balai atau Umeak Semujung secara Gotong Royong. B. Sarana dan Prasarana Pendidikan Jumlah sarana dan prasarana pendidikan ? Di setiap Desa Administratif terdapat 1 buah Sekolah atau Gedung SD, dan di Desa Suka Negeri dan Desa Rimbo Pengadang terdapat gedung SMP. C. Sarana dan Prasarana Kesehatan Tenaga kesehatan yang ada di Jurukalang ? Dukun Kampung(di Sebut Dukun) dan Dukun Beranak (disebut Dukun Banok)Bentuk prasarana kesehatan yang ada di Jurukalang ? Ada, Di Desa Tapus terdapat 1 unit Puskesmas induk dengan 1 orang Dokter, dan Di Desa Tanjung Bajak terdapat 1 unit Puskesmas Pembantu sedangkan di setiap Desa terdapat 1 orang Bidan.Penyakit yang menonjol di Jurukalang ini ? Penyakit kulit, TBCJumlah dukun beranak (Dukun Banok) ? hampir di setiap desa terdapat 1 orang dukun Banok bahkan di beberapa Desa terdapat lebih dari 1 orangJumlah dukun kampung (Dukun Sadei) ? 1 orangApakah ada dukun kampung yang mampu menyembuhkan sakit secara kebatinan? Ada DATA UMUM WILAYAH Batas-Batas Wilayah Marga Arah Batas-Batas Wilayah Nama Lokasi Batas Alam Utara Propinsi Jambi Bukit Barisan/Hulu Sungai KetahunSelatan Propinsi Sumatera Selatan Sungai Baras Timur Propinsi Rejang Lebong Air Tik Batas Barat Kecamatan Lebong Selatan Bukit Peninjau Laut

oleh Rahabilah Firdha

Source : http://petanang.co.cc/2008/07/profil-komunitas-marga-jurukalang_16.html thank to :http://rejang-lebong.blogspot.com

Burung Kape-kape/Kape-kape tembak

Burung Kape-kape,atau juga disebut dengan kape-kape tembak,salah satu jenis burung pengicau yang terdapat di hutan-hutan Rejang Lebong,burung ini biasanya dijadikan sebagai burung isian .
sepintas burung ini mirip dengan burung jenggot (Criniger bres)( Burung BS )

Jadea' Tat ( Kue Tat )

Kue tat ( Jadea' Tat dalam Bahasa Rejang ) bisa dibilang adalah kue wajib dalam masyarakat rejang, dalam acara apa pun kue ini selalu ada,baik di acara pernikahan, sedekahan. kue tat atau kue sawah sebagian orang menyebutnya seperti itu karena sebelum dipotong-potong dalam ukuran kecil kue ini mirip dengan petak - petak sawah yang dipermukaannya di terdapat selai nanas, namun ada juga yang menggantikan selai nanas tersebut dengan kelapa. biasanya kue ini berbentuk persegi empat, namun ada juga yang di cetak diatas piring sehingga berbentuk lingkaran.
kue ini terbuat dari tepung gendum,santan, gula, telur dan mentega.

Rumah Panggung di kelurahan Air Rambai

salah satu rumah tua yang terdapat di kelurahan air rambai, yang masih terawat walau sudah di rubah namun suasana tradisional dan keaslian ragam ukirannya dan bentuknya masih terlihat jelas

Pare ( Repiye )Dusun

Repiye/Pare Dusun namanya,berbeda dengan buah pare [ pariah ] memiliki ukuran yang sangat kecil kurang lebih panjangnya sekitar 3-5 cm atau sebesar jempol orang dewasa meiliki rasa yang sangat pahit. buah pare ini sudah jarang ditemukan, atau di jual dipasar-pasar, dan juga banyak yang tidak suka dengan buah ini karena memiliki rasa yang sangat pahit dibandingkan dengan buah pare-pare yang kebanyakan, namun pare ini tetap dimakan biasanya hanya di rebus begitu saja dijadikan lalapan.
Cat. foto diambil di daerah kotapadang 02 oktober 2008
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...