Pantun Rejang - Pantun Cinta dan Kesedihan (Dokumentasi Oliver)

Pantun Rejang - Pantun Cinta dan Kesedihan (Dokumentasi Oliver) Menarik membaca keterangan Olivier ada pun penduduk Sumatra pada umumnya terdiri atas empat suku besar atau groote stammen yakni orang Batak, Melayu, Redjang dan Lampong. Suku Redjang terutama bermukim sepanjang pantai barat di sebelah barat pegunungan. Orang Redjang tidak besar perawakannya, warna kulitnya cerah. Busananya tidak banyak berbeda dengan pakaian orang Jawa. Ada kebiasaan mengasah gigi yang putih menjadi hitam. Pada umumnya mereka santun, ramah, pintar dan sangat rendah hati terhadap kaum perempuan dan gadis. Di pihak lain mereka dicap sebagai lamban, berganti-ganti suasana perasaannya, suka berjudi dan sangat pendendam jika merasa dihina. Umumnya mereka senang musik, nyanyian dan tarian. Soal pantun di kalangan suku Redjang tidak luput dari perhatian Olivier. Dia mencatat beberapa contoh pantun. Di antaranya pantun menyatakan cinta dan kesetiaan berbunyi (dalam ejaan bahasa Melayu-pasar awal abad ke-19): Memoeti ombak di ratau Kalaun Patang dan pagi tida berkala Memoeti boenga di dalam Kobong Sa tangkei sadja jang menggila. Sedangkan pantun yang menyatakan kesedihan berbunyi: Parang bumbam di seberang pohon di hela tiada karoean Boelan pernama niatalah benderang Sayangnia lagi die sapoer awan. Source Dari buku Bangsa-bangsa Hindia Timur oleh Oliver http://afandri81.wordpress.com/2007/12/10/8/#comment-3 http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/06/pantun-rejang-pantun-cinta-dan.html

1 komentar:

  1. pantun rejang pantun baby,......
    ada gula ada semut belum janda jangan direbut......
    Chair / Kursi tamu

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...