OUR CURUP


Curup adalah sebuah ibukota kabupaten Rejang Lebong

Curup merupakan sebuah kota kecil di daerah pegunungan bukit barisan dan dikelilingi oleh gunung Kaba dan bukit Daun. Dahulu merupakan ibukota Kabupaten rejang Lebong namun dengan terpecahnya kabupaten ini menjadi beberapa kabupaten yaitu Kabupaten Rejang Lebong (induk), Kabupaten Kepahiang (Kepahiang), Penduduk aslinya adalah suku Rejang. pernah menjadi ibukota Propinsi Sumatera selatan pada masa revolusi dibawah kepemimpinan Gubernur A.K. Gani. merupakan daerah penghasil Beras dan sayur-sayuran yang dikirim ke Palembang, jambi, Padang, lampung ingga jakarta. beberapa tempat wisatanya yang terkenal adalah Suban Air panas, pematang danau, Gunung Kaba, Air Terjun di Kepala Curup,dan situs situs peninggalan masaprasejarah.Daerah ini juga dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran bunga Rafflesia Arnoldi. kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Indonesia.

Kota Curup, ibukota Kabupaten Rejang Lebong
terletak sekitar 85 Km di timur laut kota Bengkulu adalah
sebuah kota kecil yang terletak di suatu lembah di kaki
pegunungan Bukit Barisan. Kawasan lembah di tempat ini
merupakan salah satu sumber air bagi Sungai Musi yang
mengalir hingga ke kota Palembang. Kota pegunungan yang
berhawa dingin ini dapat dicapai dengan bis selama tiga
jam yang berangkat dari pusat pasar kota Bengkulu.
Kondisi jalan antara Bengkulu dan Curup relatif
cukup baik, jalan ini menanjak melewati hutan di kawasan
138
pegunungan Bukit Barisan. Dari ketinggian bukit terlihat pemandangan kota
Bengkulu dan Samudera Indonesia yang membentang luas menyajikan panorama
yang indah.
Kawasan di sekitar Curup merupakan lahan pertanian yang menghasilkan
padi dan sayuran seperti wortel dan kubis yang dijual di pasar kota Curup.
Tempat-tempat penggilingan padi yang digerakkan dengan tenaga air dapat ditemui
di kawasan persawahan di sekitar Curup. Penduduk di desa-desa di sekitar Curup
ini masih tinggal di rumah adat panggung yang terbuat dari kayu.
Kota yang terletak ditengah-tengah antara kota Bengkulu dan Lubuk Linggau
ini memiliki beberapa tempat menarik untuk dikunjungi. Tempat-tempat tersebut
berada di sekitar Bukit Barisan antara lain: mata air panas dan air terjun yang
berada di Suban, tempat ini dikenal dengan nama Lokasi Wisata Suban Air Panas.
Sarana yang dimiliki cukup lengkap yaitu kolam renang air panas, kamar pemandian
air panas, kios cindramata dan fasilitas umum lainnya.
Tempat ini cukup ramai dikunjungi orang pada akhir minggu. Dahulu, pada
zaman Hindu kawasan ini digunakan sebagai tempat beribadah dan bersemedi
bagi penganut agama Hindu.
Dari Curup terdapat jalan menuju utara ke Muara Aman. Pada masa kolonial
dulu tempat ini merupakan pusat penambangan emas. Jalan yang menuju ke Muara
Aman ini akan melewati suatu kawasan wisata Danau Tes yang populer di kalangan
wisatawan setempat. Danau cantik yang terletak di pegunungan Bukit Barisan ini
merupakan danau terbesar di Bengkulu.

Obyek lainnya adalah Air Terjun Kepala Curup dengan ketinggian 100 meter
dan Danau Bestari yang terletak dipinggir jalan negara antara Curup-Lubuk Linggau
dan menjadi tempat istirahat dengan udara yang sejuk. Bukit Kaba menjadi tempat
yang pas bagi penggemar wisata petualangan, Anda dapat mendaki hingga ke
puncak gunung Kaba (1.937 m) yang terletak 19 Km di timur Curup.
Dari pusat kota Curup, Anda dapat menggunakan kendaraan umum atau
kendaraan pribadi menuju ke arah Lubuk Linggau sejauh 16 Km hingga tiba di
persimpangan yang menuju ke Posko pendakian ke Kawah Kaba. Gunung yang
lebih sering dinamakan Bukit Kaba ini memiliki dua kawah yang mengeluarkan gas
belerang dan dikelilingi hutan lebat.




Pematang Danau

7.24.2008

Pematang danau ( Danau Harum Bastari / Danau Mas )Bulan Juli 2008
foto diambil dari Villa Hijau












Read the rest of this entry »......

Macang

sejenis mangga namun memiliki rasa yang asam, buah ini masih sering di jumpai di curup dan biasanya dijadikan sebagai lauk yaitu dengan cara disambal.





Macang adalah nama sejenis pohon buah yang masih sekerabat dengan mangga. Orang sering menyebut buahnya sebagai bacang, ambacang, embacang atau mangga bacang. Juga dikenal dengan aneka nama daerah seperti limus (Sd.), asam hambawang (Banjar), macang atau machang (Malaysia), maa chang, ma chae atau ma mut (Thailand), la mot (Myanmar) dll. Dalam bahasa Inggris disebut bachang atau horse mango, sementara nama ilmiahnya adalah Mangifera foetida Lour.

Read the rest of this entry »......

Pricit Madu (Cinnyris jugularis spp)

Masih sering di temui di curup khusunya di daerah perkebunan dan perbukitan, namun masyarakat lokal menyebutnya dengan nama pricit madu (Cinnyris jugularis spp) , dikarenakan burung tersebut menghisap sari - sari bunga.

namun bila ada para pembaca yang mengetahui nama dan jenis burung ini mohon informasinya.




keterangan :
Ukuran tubuh kecil kurang lebih panjang 6-7 cm ( sepanjang jari telunjuk )
bentuk tubuh ramping, dan memiliki paru yang panjang








Read the rest of this entry »......

Samba Macang

Samba Macang ( sambal macang ) merupakan salah satu masakan yang sering dibuat masyarakat curup, bila musim buah macang berbuah, namun tidak diketahui dengan pasti apakah masakan ini khas daerah curup apa bukan, soalnya hampir disetiap daerah mempunyai dan mengenal nama masakan ini hanya namanya saja yang berbeda.
masakan ini biasanya dimakan bersama nasi yang dijadikan sebagai lauk.



Bahan:
Buah Macang
Cabe
Gula Merah

Cara Membuat:
kupas buah macang lalu dicuci bersih dan di iris-iris sesuai selara, setelah itu campukan dengan cabe yg sudah digiling halus dan gula merah ,lalu aduk-aduk hingga merata.

Read the rest of this entry »......

Riwayat Sultan Sarduni gelar Rio Mawang

7.13.2008

Sultan Sarduni gelar Rio Mawang, setelah mendengar cerita dari ibunya “Puteri Bungsu” bahwa neneknya “Sutan Saktai” masih hidup dan saat ini berada dan menjadi Rajo di Renah Pelawi Lebong, maka ia mohon izin kepada ibunya untuk mencari neneknya.

Dalam pencarian itu, Sultan Sarduni pergi tanpa arah, ia hanya menuruti kata hatinya, Sultan Sarduni berjalan menyusuri pantai laut arah keselatan, hingga sampailah ia kemuara sungai (Sungai Ketahun), dan iapun menyusuri sungai tersebut hingga akhirnya sampailah ia ke suatu gunung (Gunung Resam), karena kelelahan akhirnya Sultan Sarduni tertidur di puncak gunung itu, dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh orang tua, dan orang tua itu berkata “palingkan mukamu kearah timur, disanalah nenekmu sedang bersidang”, setelah terjaga pergilah Sultan Sarduni kearah Timur seperti petunjuk orang tua dalam mimpinya. Setelah berjalan ± 12 Km, sampailah ia kesuatu kampung (Renah Pelawi), disana ia melihat banyak orang yang telebong (rapat raja bersama para pemimpin Pat Petuloi), akhirnya bertemulah Sutan Sarduni dengan neneknya Sultan Saktai.


Dari kata-kata Telebong itulah, maka Renah Pelawi disebut dengan Lebong.

“Telebong” adalah kata-kata asli bahasa Rejang yang berarti “Terkumpul”.

Setelah beberapa lama Sultan Sarduni gelar Rio Mawang berada di Renah Pelawi, dan mendapatkan pelajaran kepemimpinan dari neneknya Sultan Saktai, dan atas kecakapan dan kecerdasannya ikut menjalankan pemerintahan. Dan mengingat Sultan Saktai sudah tua, maka atas mufakat dari seluruh pemimpin Tiang Pat dan para cerdik pandai Renah Pelawi, Sultan Saktai akhirnya menyerahkan jabatan Rajo Renah Pelawi kepada cucunya yaitu Sultan Sarduni, dan ditetapkanlah Sultan Sarduni menjadi Rajo ke 2 di Kerajaan Renah Pelawi.

Setelah Sultan Sarduni menjadi Raja II Renah Pelawi, maka Sultan Saktai pergi untuk kembali ketanah kelahirannya ke Pagaruyung.

Beberapa riwayat berpendapat bahwa, Sultan Saktai tidak sampai ke Pagaruyung, ia hilang ghaib di sebuah gunung besar Ulu Lais, benar atau tidaknya riwayat ini hanya Allah-lah yang mengetahuinya.
Sesuai dengan tradisi masyarakat, bahwa setiap yang menjadi pemimpin pemerintahan, ia harus berkeluarga, maka Sultan Sarduni dikawinkanlah dengan Puteri Sindaraya binti Rio Bitang.

Sumber : http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/07/riwayat-sultan-sarduni-gelar-rio-mawang.html

Read the rest of this entry »......