Language

Widget by Hoctro

Fauna : Carpenter bee - Xylocopa latipes from Rejang Land Sumatra

 Carpenter bee - Xylocopa latipes female


Carpenter bees (the genus Xylocopa in the subfamily Xylocopinae) are large, hairy bees distributed worldwide. There are some 500 species of carpenter bee in 31 subgenera. Their name comes from the fact that nearly all species build their nests in burrows in dead wood, bamboo, or structural timbers (except those in the subgenus Proxylocopa, which nest in the ground). Members of the related tribe Ceratinini are sometimes referred to as "small carpenter bees".and this picture is  a Carpenter bee - Xylocopa latipes female.

Characteristics
 Xylocopa latipes is bee with fully black and the wings with metalic blue,green and purple colour under sunlight.

Scientific classification

Kingdom:Animalia
Phylum:Arthropoda
Class:Insecta
Order:Hymenoptera
Family:Apidae
Genus:Xylocopa
Species:X. Latipes


Image Location :
Talang Rimbo Lama Village,Middle Curup District,Rejang Lebong Regency

References :
  • Thank to:   terraincognita96  / Bernhard Jacobi for helping identify this species ( http://www.flickr.com/photos/14839479@N05/3428188251/ )
  • http://vespa-bicolor.net/main/solitary-bees/xylocopa-latipes.htm
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Xylocopa
read more “Fauna : Carpenter bee - Xylocopa latipes from Rejang Land Sumatra”

selanjutanya.....“Fauna : Carpenter bee - Xylocopa latipes from Rejang Land Sumatra”

AMANAT LELUHUR DARI TANAH REJANG (Marga Bermani Perbo)

(Meski cerita ini merupakan pengalaman spiritual yang dialami oleh penulis, namun makna dan pesan yang terkandung dalam cerita ini patut diikuti dan diresapi oleh seluruh anak bangsa Rejang atau mereka yang berasal dari tanah Rejang)

Tahun 1952, di usia baru sepuluh tahun, aku dikhitan sebagai persiapan memasuki masa remaja, setelah melalui masa kanak-kanak yang indah. Aku senang membaca, dan juga senang mendengar cerita. Kisah indah dari dongeng yang disampaikan Datuk dan Angung-ku meresap ke dalam kalbuku. Itu membuat dunia dan hari depan mulai kurasakan sebagai hamparan kemungkinan yang tiada batasnya. Aku memiliki pesona hari depan, dan aku menjadi tawanan obsesi yang berada di dalamnya.

Tahun itu, tersebar berita Datuk dan Andung-ku akan berangkat ke tanah suci, Mekkah, menunaikan ibadah haji. Aku dikabarkan juga akan disekolahkan di kota Bengkulu, dan sehabis itu akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di pulau Jawa. Serangkaian rasa bahagia yang indah memasuki kalbuku, dan hatiku yang berbunga-bunga menjelma menjadi senyuman tulus dan sikap ramah kepada siapa saja. Tapi, dalam lubuk hatiku tersirat rasa khawatir dan was-was.

Perasaan khawatir itu muncul mungkin karena kota Bengkulu dikenal sebagai negerinya orang Melayu, sementara aku adalah anak bangsa Rejang. Apalagi, di dalam mata pelajaran sejarah disebutkan bahwa kota Bengkulu adalah tanah pembuangan yang penuh dengan nyamuk malaria yang senang membunuh manusia. Sedangkan tanah Rejang, aku rasakan sebagai negeri yang indah dan menyejukkan.

Datuk dan Andung-ku yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, mungkin memiliki suasana hati yang sama denganku. Karena itu, pada suatu hari beliau mengajak aku melakukan campaign in the forest, yang dalam institusi kehidupan Rejang masa lalu disebut tarak, yang di dalam bahasa Indonesia disebut bertapa. Atau sejenis bertafakkur seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Muhammad SAW di Gua Hira.

Tarak itu kami lakukan dengan berendam di sungai yang airnya bersinar terang di malam hari. Kawasan dimana kami bertapa itu disebut Imbo Ngew, sebuah kawasan rimba perawan di timur dusun kami, tempat sungai Palik berhulu. Masyarakat Rejang Pesisir sangat mempercayai bahwa kawasan itu sebagai tempat kawanan harimau bermukim. Tapi melalui mantera-mantera, Datuk dapat mengubah sifat buas harimau menjadi jinak dan bersahabat.

Di tengah malam, di sebuah pondok darurat yang terbuat dari ranting kayu beratap daun puea dalam rangkulannya, Datuk membisiki telingaku. Dan, orang-orang percaya bahwa Datuk menyerahkan ilmu nya kepadaku melalui mantera. Bila ditulis kembali dengan pengertian yang tajam kira-kira begini bunyinya :


"Tengah malam di bumi dan haribaan leluhur ini kucurahkan isi jiwaku kepadamu, cucuku. Engkau akan pergi jauh ke berbagai penjuru bumi, berarti engkau menjemput janji Allah SWT yang tersurat di keningmu. Engkau kurestui. engkau bukan lagi milik masa lalu dan masa kini, tetapi milik masa depan. Engkau bukan lagi milikku dan milik kami, tetapi akan menjadi milik bangsa dan tanah airmu. Engkau memang anak yang lahir di negeri Rejang, cucuku sayang. Tetapi, itu adalah akar, sedangkan pohon dan dahan, serta ranting yang akan berbuah lezat bagi umat manusia, akan tumbuh berkembang dalam kawasan lebih luas, dinaungi langit yang juga lebih luas. Namanya Tanah Air Nusantara yang menjunjung kehidupan bangsa Indonesia. Tanah airmu sangat luas, ribuan kali lebih luas dari tanah Rejang, tanah kelahiranmu.


Sejak masa hidup leluhur sampai giliran kami turun ke dunia, persaudaraan dan persahabatan kami hanya selingkup tanah dan negeri Rejang. Tetapi, tiba pada giliran para cucuku turun ke dunia, tanah airmu adalah Indonesia dan persaudaraanmu meliputi sebangsa Indonesia. Dan, kalian turun ke dunia untuk menghimpun arti dan makna kehidupan yang hakiki, serta menebarkannya menjadi hikmah kebajikan dalam bumi suburnya hidup dan kehidupan. Arti dan makna hakiki itu tersimpan dalam Ridho Allah SWT, seperti emas mulia tersimpan dalam batu yang keras di perut bumi.

Akan datang waktunya kalian jauh meninggalkan kampung halaman dan keluarga serta kerabat. Engkau memulainya cucuku, berarti engkau mengajak. Itu adalah nasib, dan nasib adalah kehendak-Nya. Tetaplah kalian menatap kearah depan, kearah kawasan dimana negeri dan bangsamu bersatu dalam sumpah dan kerja keras perjuangan untuk mewujudkan cita-cita hari depan yang luhur. Melangkahlah ke depan. Maka secara duniawi kalian menjauhi kami dan menjauhi tanah kelahiran. Tetapi simpanlah kami, negeri dan para leluhurmu , dalam tempat yang juga luhur, yaitu dalam rasa kasih dan kangenmu, serta dalam doamu. Walau pun kami sudah menjadi arwah memenuhi panggilan suci sang penciptan rasa kasih dan doa kami para leluhur menyertaimu selalu, baik melalui aliran darah, tarikan nafas dan denyut jantungmu ataupun dalam setiap langkah ikhtiar perjuangan hidupmu.

Dalam menempuh perjalanan jauh dari negeri dan keluarga dimana leluhurmu terkubur, kalian akan menghadapi berbagai tentangan yang didalamnya terkandung derita dan kesengsaraan. Bahkan mungkim kalian akan memasuki bagian dunia dan kehidupan yang gelap. Kalian tidak akan menemukan saudara dan sahabat, walau pu saudara dan sahabat itu diperlukan. Persaudaraan dan persahabatan adalah kekuatan dahsyat, oleh karena Ridho Allah SWT hadir di dalamnya. Kalian harus menciptakan saudara dan sahabat, di manapun dan terhadap siapa pun. Menegakkan persaudaraan dan persahabatan di atas muka bumi adalah tugas luhur setiap insa hamba Allah SWT.

Cucu-ku sayang, engkau pergi jauh, kurestui. Engkau akan menjadi anak bangsa Indonesia, kurestui. Tetapi kumohon kau selalu ingat bahwa akar kehidupanmu adalah Tanah Rejang dimana leluhurmu terkubur".


Bisikan mantera ke dalam jiwaku itu datang dari kakekku : Haji Djalil Khan yang lahir 1880 dan wafat 1960. Beliau adalah Pangeran terakhir Marga Bermani Perbo, Rejang Pesisir, Bengkulu Utara.

(dikutip dari buku Direktori Keluarga Rejang Jakarta & Sekitarnya)

Source:
  • Sent by Sandy Nafri
    http://www.facebook.com/inbox/?tid=1178168305823

    Pariwisata Bengkulu
  • http://rejang-lebong.blogspot.com
read more “AMANAT LELUHUR DARI TANAH REJANG (Marga Bermani Perbo)”

selanjutanya.....“AMANAT LELUHUR DARI TANAH REJANG (Marga Bermani Perbo)”

Fauna : Bronchocela jubata - Green Crested Lizard from Rejang Land Sumatra


 Bronchocela jubata, or more commonly known as the Green Crested Lizard, is an agamid lizard found in Indonesia,Although in the past it was thought the species may be found in India, either on the mainland or in the Nicobars, this is not the case according to herpetologist Indraneil Das. It is also be known by the name of "bloodsucker", although this is a misnomer.

The Green Crested Lizard is 550mm in length, witha long hanging tail making up four fifths of its length. It has a jagged crest on its neck which more closely resemble hairs, as opposed to the crest of its close relative, B. cristatella, which more closely resembles the points on a crown. The crest consists of elongated scales, although it is flabby like skin.

The head is square in shape, and there is a soft sack under the chin. It has large, flexible eyelids made of fine speckled scales.

The dorsal area is coloured from light green to dark green, and can change to brown or black if feeling threatened. A rusty coloured stain appears under the throat. More spots, often blurring to form a stripe, appear on the shoulder and the front lateral side. Towards the back of the lizard, the colour becomes duller.

The underside of the lizard is yellowish to white under the chin, neck, stomach and the back of the legs. The bottom of the hands and feet are a yellowish brown. The tail is coloured green at its base, with bluish stains. Towards the end of the tail, the colour becomes a dull brown with whitish spots on the tip.

The scales of the Green Crested Lizard are hard, course and strong. The tail has an angular feel.





Scientific classification

Kingdom:
Animalia
Phylum:
Chordata
Class:
Reptilia
Order:
Squamata
Family:
Agamidae
Genus:
Bronchocela
Species:
B. jubata

Binomial name :
  • Bronchocela jubata,Duméril & Bibron, 1837

Image Location: Talang Rimbo Lama Village,South Curup District,Rejang Lebong Regency

References :
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Bronchocela_jubata
read more “Fauna : Bronchocela jubata - Green Crested Lizard from Rejang Land Sumatra”

selanjutanya.....“Fauna : Bronchocela jubata - Green Crested Lizard from Rejang Land Sumatra”

Fauna : Bronchocela cristatella - Green Crested Lizard from Rejang Land Sumatra



 Bronchocela cristatella, also known as the Green Crested Lizard, is an agamid lizard found in Southeast Asia

 This species is a bright green lizard, sometimes possessing a blue tint on the head. It is able to change colour, turning darker brown when threatened. There is a dark ring around the eyes, and a dark spot at the back of the head. The males have a crest on the neck. It has a very long and thin tail (75% of total length). The body length is of 13 cm, and the total length (body + tail) is of 57 cm.

Scientific classification

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Reptilia
Order: Squamata
Suborder: Iguania
Family: Agamidae
Genus: Bronchocela
Species: B. cristatella

Binomial name
  • Bronchocela cristatella,Kuhl, 1820

Image Location : Talang Rimbo Lama Village,South Curup District, Rejang Lebong Regency

References :
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Bronchocela_cristatella

read more “Fauna : Bronchocela cristatella - Green Crested Lizard from Rejang Land Sumatra”

selanjutanya.....“Fauna : Bronchocela cristatella - Green Crested Lizard from Rejang Land Sumatra”
Related Posts with Thumbnails