Orchid Of Rejang Lebong

Oberonia subanajamensis JJSm, 1928 Is one of hundreds species of orchids in Rejang Lebong, read more about orchid of rejang lebong

Rejang Tribe

Rejang is unique from other tribes, one of the unique customs and language, Read more for Rejang tribe..

Armophophallus

many species of Amorphophallus grown wild in Rejang Land,one of them Amorphophallus titanum is the biggest Armophophallus. Read more

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

40 RUPIAH 1949 TJURUP

Uang 40 Rupiah yang pernah beredar di Kota Curup Sumber : http://cgi.ebay.com/INDONESIA,-40-RUPIAH--1949-TJURUP_W0QQitemZ300228943705QQcmdZViewItem?IMSfp=TL0805291451r15385

Kain Adat Rejang Lebong

Rejang Lebong Ceremonial Cloth

We just found a fine example of rare and very old type to add to our already significant collection of textiles from a little known interior area of Pasemah Regency in Sumatra. Textiles of this type are extremely rare, and seem to have begun coming out of the field in some numbers only in the past seven years or so. They have been variously described by travelers, dealers and institutions as "Kalianda" cloth, "Rejang Lebong" cloth, and "Temaland Ulu". They are certainly not from Kalianda; can be linked to the Rejang Lebong people; and as for "Temaland Ulu," the term is hard to verify. There is no place recorded in Indonesian sources called "Temaland" in Sumatra. The word "ulu" simply means riverhead, or up-river area. Who can to add verifiable information to this long-discussed matter?

If Some one know, please give us information in this blog.

Sumber : http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/05/rejang-lebong-ceremonial-cloth.html

Rejang Lebong

Photobucket
Rejang Lebong
by : Taufik Rahzen Edit by : Curup Kami
REJANG Lebong, kabupaten di Bengkulu yang pusat pemerintahannya berada di Bukit Besar, memiliki kedekatan dengan angka "empat", seperti "Empat Ajai" dan "Rejang Empat Petulai". Konsepsi macam itu bisa menandai orang-orang Rejang memiliki wawasan geopolitik mengenai ruang persebaran mereka di Bengkulu.

Suku bangsa Rejang, salah satu suku dengan sebaran populasi yang terbesar di Bengkulu, berasal dari kawasan ini. Sebelum terkenal dengan nama Rejang Lebong, kawasan ini menyandang beberapa nama, di antaranya adalah Renah Sekawi, Pinang Belapis atau kerap juga disebut Kutai Belek Tebo.

Sebelum mengenai tata sosial yang relatif rapi, orang-orang Rejang di Lebong hidup dengan cara nomadik. Dalam tambo orang-orang Rejang, periode ini kerap disebut sebagai masa "Meduro Kelam".

Tatanan sosial mulai rapi setelah orang-orang Rejang mengenal institusi yang disebut "Ajai". Secara sederhana, Ajai merupakan sosok yang dihormati oleh orang-orang Rejang. Seseorang ditetapkan sebagai Ajai melalui permufakatan komunal. Dialah yang memimpin orang-orang Rejang.

Tambo orang-orang Rejang mengenal empat orang Ajai yang paling masyhur. Mereka adalah Ajai Bintang yang memimpin di Pelabai, Ajai Siang yang memimpin di Siang Lekat, Ajai Begelan Mato yang memimpin di Kutai Belek Tebo, dan Ajai Malang yang memimpin di Bandar Agung/Atas Tebing.

Orang-orang Rejang memang akrab dengan angka "empat". Selain mengenal empat Ajai legendaris tadi, orang-orang Rejang juga mengenal semacam konsepsi geopolitik yang disebut dengan "Rejang Empat Petulai". Tambo orang-orang Rejang menyebut dari dari konsepsi "Rejang Empat Petulai" inilah nama "Lebong" akhirnya muncul.

Konsep "Rejang Empat Petulai" ini muncul pada masa kepemimpinan para Ajai tadi, terutama setelah kedatangan empat orang biku/biksu dari tlatah Jawa, disebut-sebut diutus oleh penguasa Majapahit. Kemungkinan karena dari Majapahit itulah empat orang biku tadi awalnya ditolak orang-orang Rejong yang khawatir mereka akan dijadikan wilayah kekuasaan Majapahit dan kelak diwajibkan menyetor pajak dan upeti. Mereka juga khawatir kebudayaan dan bahasa Jawa akan dipaksakan untuk diterapkan.

Tetapi empat biku itu ternyata bersikap amat kooperatif. Karakter dan laku keseharian mereka malah berhasil memikat orang-orang Rejang yang terbagi ke dalam empat wilayah tadi dan bahkan dipercaya untuk memimpin masing-masing wilayah. Dari situlah konsepsi "Rejang Empat Petulai" itu muncul.

Petulai sendiri secara sederhana bisa dianggap sebagai sebuah model dari sistem kekerabatan khas orang-orang Rejang. Dalam versi yang lain, petulai bagi orang-orang Rejang kadang diartikan sebagai tiang. Rejang Empat Petulai, dalam definis terakhir tadi, bisa dipahami sebagai "empat tiang yang menyangga dan memersatukan orang-orang Rejang". Konsep ini penting mengingat orang-orang Rejang sendiri tersebar di beberapa wilayah yang lumayan berjauhan.

Orang-orang Rejang kini tersebar di beberapa kabupaten di Bengkulu, dari mulai Kabupaten Lebong, wilayah Merigi dan terutama di Rejang Lebong sendiri. Khusus di Kabupaten Rejang Lebong.

Orang-orang Rejang sendiri sempat berhasil membangun sebuah kerajaan kecil yang beberapa sumber menyebutnya sebagai Kerajaan Sungai Lebong. Diperkirakan, Kerajaan Sungai Lebong ini muncul sekitar abad 14, kurang lebih hampir bersamaan dengan Majapahit di Jawa. Pusat pemerintahannya berada di Curup yang sekarang menjadi ibukota Kabupaten Rejang Lebong.

Kendati demikian, Curup sempat tenggelam. Sewaktu kawasan Rejang Lebong diberi status sebagai Afdeling Rejang Lebong, pemerintah kolonial Hindia Belanda menunjuk Kepahiang sebagai ibukota Afdeling Rejang Lebong.

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=tambahan&sec=Nusantara&rbrk=&id=41997&detail=Jurnal%20Republik

Peta BPL Yankes Dinas Kesehatan Kab. RL

HUT 128 Kota Curup

HUT Kota Curup 128
Pada tahun ini kegiatan ini dilakukan selama 15 hari mulai dari tanggal 14 Mei s/d 29 berbagai macam kegiatan budaya ditampilkan baik melalui lomba-lomba atau yang dipamerkan dalam pameran kebudayaan.bukan hanya dari stan-stan pemerintah yang menghiasi lapangan setia negara dalam acara pameran ini, tapi banyak juga kios-kios masyarakat yang ikut mencari keberuntungan dalam kegiatan tahunan kota curup,mulai dari depan masjid al jihatyang ke sampai dengan di depan kantor telkom ramai di isi oleh para pedangan yang menawarkan dagangan mereka, mulai dari pakaian, sampai ke makanan,kebanyakan mereka adalah para pedagang,baik yang berasal dari kota curup atau yang berasal dari luar kota curup,suasana lapangan setia negara menjadi sangat ramai,apa lagi untuk malam harinya,karena banyak kegiatan yang di pertunjukkan di panggung utama pada malam hari,namun bukan itu kegiatan lomba juga dilaksanakan di siang hari yang mengambil tempat di Gedung Pemuda dan Olah Raga ( GOR Curup ) dan Gedung GOW di samping masjid Aljihad, kegiatan lomba yang dilaksanakana beragam mulai dari yang berkaitan dengan budaya sampai dengan yang sifatnya umum, seperti lomba geritan, lomba rebana, lomba tari kreasi, lomba tari kejei, dan sebagainya. tidak hanya itu dalam HUT Kota Curup kali ini tidak hanya kebudayaan rejang yang ditampilkan tapi juga beberapa kebudayaan lain yang di pertunjukan seperi dari jawa, padang, sunda,jambi dan medan dan juga dari kabupaten-kabupaten yang ada di Bengkulu turut memeriahkan HUT kota Curup yangke 128 tahun ini,pada malam terakhir tepatnya pada tanggal 29 Mei adalah acara puncak dari rangkaian HUT Kota Curup yang ke 128. Note: maaf terlambat ngepost artikel ini karena banyak kesibukan...D

Peralatan Tradisional

Peralatan tradional yang digunakan sehari - hari oleh orang suku rejang, yang terbuat dari anyaman bambu
Cakik digunakan untuk tempat mencuci sayuran,ikan atau daging, bentuk dan ukurannya beragam ada yg kecil sedang dan besar Ti is Niyoa / Tirisan Kelapa /Saringan kelapa digunakan untuk menyaring santan kelapa dimana dibawahnya ada ujung yang lancip mirip sebuah corong Krotong digunakan untuk menempatkan ikan hasil tangkapan Tikong digunakan untuk tempat bumbu-bumbu dapur ( Bawang putih,bawang merah,cabe dll )
Foto : Dari Stan Kab. Lebong dalam pameran Kebudayaan HUT Kota Curup 128

Sobot Kisik

Sobot
Dalam istilah bahasa rejang artinya sikat sobot kisik adalah sikat yang terbuat dari buah oyong yang telah tua jaman dahulu orang - orang terutama yang tinggal di dusun-dusun sudah mengenal spons namun bukan yang terbuat dari plastik, nylon atau busa melainkan yang terbuat dari buah kisik ( gambas/oyong ) yang tua, atau bisa menggunakan sabut kelapa. sobot ini bisa dijadikan sikat untuk mandi atau sikat untuk mencuci peralatan dapur.
untuk sobot sebesar itu bisa dipotong menjadi beberapa bagian.sesuai dengan kebutuhan, namun sayang semenjak dikenalnya sikat yang terbuat dari plastik,nylon dan busa , udah jarang ditemukan sobot yang tebuat dari buah kisik,hanya penduduk-penduduk yang tinggal di dusun-dusun dan ditalang - talang yang masih menggunakan sobot kisik tersebut. sayangnya sobot kisik itu buakanlah dari buah kisik dusun, jika buah kisik dusun ukurannya lebih kecil dari buah kisik bangkok. untuk sobot kisik sebesar itu hanya di jual dengan harga Rp. 1000 per buahnya.

Sambea Ujak

SAMBEA UJAK Sambea ujak ( sambal ujak ) adalah masakan khas rejang ada istilah yang cukup dikenal yaitu sambea ujak lem boloak ( sambal ujak dalam bambu ) dulunya masakan ini dimasak dalam bambu dan ada juga yang masaknya dengan belanga dan memang rasanya lebih enak jika di masak secara tradisional. Bahan - bahan : cabe 100 grm kemiri 3 biji cung 150 gr daun bawang 2 batang kunyit sebar ibu jari serai satu ibu jari ikan salai ( ikan asap )250 gr garam secukupnya cara membuatnya : Rebus cung dengan air kurang lebih 4 gelas,setelah airnya mendidih angkat dan cungnya di tekan tekan hingga hancur masukan cabe,kemiri serai,garam dan kunyit yang telah dihaluskan kedalam rebusan cung tadi dan masukan juga daun bawang dan ikan salainya, lalu dimasak lagi hinga mendidih.setelah itu angkat.siap untuk di sajikan. catatan : untuk ikan sesuai dengan selera( Ikan mas, Ikan Putih atau kalo bisa ikan putih yang telah di asapkan ) bisa juga di tambahkan dengan kabau bagi yang suka kabau kata ujak yaitu menggepengkan cung tadi mungkin karena masaknya ada acara gepeng-gepengan makanya dinamakan sambal ujak :hehe Cung adalah sejenis tomat kecil atau juga di sebut dengan tomat dusun yang rasanya sangat asam yang memiliki daging sangat tipis.

Sambea Kabuo

Sambea Kabuo ( sambal kabau ) salah satu makanan ( sambal ) yang menjadi favoritnya orang-orang curup/rejang. yang terbuat dari kabau, ( untuk yang ado dirantau mohon maaf nian ambo cuma bisa kasi gambarnyo bae..D ) Bahan- bahan : Kabau 250 grm Cabe kriting 100 gr Bawang putih 1 siung Bawang marah 3 siung Tomat 1 buah Garam secukupnya Minyak goreng Cara membuatnya : Kabau di tumbuk kasar tapi jangan sampai terlalu hancur, lalu panaskan minyak buat menggoreng kabau tadi, setelah kering ditiriskan,selanjutnya giling cabe, bawang putih dan bawang merah dengan garam secukupnya,setelah di giling lalu ditumis hingga harum dan selanjunta masukkan kabau yang telah di goreng sebelumnya.( sambal kabau ini bisa juga ditambahkan dengan ikan teri, tahu, atau tempe yang telah di goreng, atau sesuai dengan selera anda / ayam, daging,telor juga boleh :D ) Selesai..:D Catatan: kabau sama denga petai dan jengkol yang bisa menimbulkan bau bagi yang memakannya kabau ini sangat populer di masyarakat curup,biasanya yang tua di buat sambal atau di campur dalam masakan lain buat penggugah selera makan ( dalam masakan lemea, shambha ujak,dll ) dan yang muda biasanya di buat lalapan ( Skulem Kabuo ) Note : Untuk gambar kabau yang masih dipohonnya dari http://dusunlaman.net

Alat - Alat Upacara Adat

Satu lagi barang-barang kuno yang di perlihatkan oleh BMA Kab. Rejang Lebong dalam HUT Kota Curup yang 128, yaitu separangkat alat-alat upacara adat yang terbuat dari kuningan dan keramik. keterangan gambar : dari barisan bawah dari kiri ke kanan
  1. Selepeak besar : biasanya isi dengan barang - barang berupa perhiasan
  2. Selepeak kecil : diisi dengan uang
  3. Tempat sesajen
  4. Tempat Kemenyan
  5. Tempat Bara Api
Di belakang dari kiri kekanan
  1. Talam Saji : tempat makanan dan menghidangkan makanan
  2. Tempat Dupa
  3. Nampan Besar tempat menempatkan kue-kue
  4. Tempat Nasi ( diatas nampan Besar )
  5. Piring Raja ( diatas nampan besar )
Note : untuk piring raja dulunya adalah piring yang bisa mengakal segala jenis racun

Alfabetos de Ayer y de Hoy Rejang by Promotora Espanola de Linguistica

Clasificación genealógica
Nociones básicas : El sistema de escritura rejang es silábico y procede del kavi. El sentido de la escritura es de izquierda a derecha.
Arriba un manuscrito rejang del sur de Sumatra, escrito en tiras de bambú. La lengua es la malaya y la escritura la local rejang conocida como ka-ga-nga.
La escritura rejang, al igual que sus hermanas, batak y lampong, es una escritura muy simplificada.
Source : PROEL Apartado 49050 - 28080 Madrid Thank to :http://rejang-lebong.blogspot.com

Bahasa Rejang

ASAL BAHASA REJANG

SEMINAR BAHASA DAN HUKUM ADAT REJANG

ASAL BAHASA REJANG

Richard McGinn

Ohio University USA

0. Ringkasan

Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.

1. Bahasa Rejang adalah anggota subkelompok besar “Austronesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Austronesia Purba.

2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.

Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).

1. Hipotesa yang pertama

Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Austronesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu duaratus bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang (Dempwolff 1934-1938; Dahl 1976; Blust (MS, no date). Berikut adalah beberapa contoh kata sehari-hari yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Austronesia Purba.

Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia

Melayu Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Samoan Malagasy

(Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) Rawas (Pasifika) (Afrika)

Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua

Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra

Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi

Enam enem anim inŭm num ono ëninä

Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??

Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao

Mata maca mata matŭh matei mata maso

Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini

Ati aTay atay ati atui ate ati

Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??

Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??

Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä

Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ

Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato

Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä

Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai selalu menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.

2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

Dalam seksi tulisan ini akan dibicarakan keunikan bahasa Rejang pada umumnya, kemudian sumbangan setiap dialek untuk merekonstrusikan bahasa Rejang Purba.

2.1 Keunikan Bahasa Rejang

Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi.

  • PERBENDAHARAAN KATA YANG KAYA-RAYA
  • STRUKTUR KALIMAT YANG SUSAH DITERJEMAHKAN

    Rajo yo mebureu coa si awié lak nien.

  • SISIPAN -EM- DAN -EN-

    Inuk cemerito dongéng kelem. ~ Dongéng o cenerito inuk ku.

  • KETIDAKADAAN AKHIRAN

    Uku nelei nak Cu’up = Saya dibesarkan di Curup

  • DUA SERIAL NASAL (BUNYI SENGAU)

    jameu inok singeak janjei

    ‘jambu’ ‘ibu’ ‘singgah’ ‘janji’

  • TEKANAN PADA AKHIR PERKATAAN

    “Lalan Bélék” delafalkan LaLAN bĕLÉK (bukan LAlan BÉlék)

  • HARMONI VOKAL

    MPP Rejang MPP Rejang

      *langit léngét *nyamuk nyomok

      *Rakit ékét *tungked tokot

      *balik bélék *ipen épén~äpän (Rawas)

      *manuk monok *hiket ékét~äkät (“)

      *sabung sobong *isep ésép~äsäp (“)

  • BANYAK SEKALI DIFTONG

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu

2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui

3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui

    1. *sapu *supu supau supau supeu supeu supeu

    2. *talih *tili tilai tilai tilei tilei tilei

    3. *duha *dui duai duai duei dui duei

    4. *mata *mati matai matai matei matei matei

    5. *kena *kena keno keno keno keno kenau

Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.

Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.

2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung

Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.

    1. H diwariskan dari Rejang Purba *r (yang hilang dalam dialek lain): hotos ‘ratus’; kehing ‘kering’; libeh ‘lebar’

    2. -i dalam dui, tui, bungi diwariskan dari *due, tue, bunge dalam bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang menjadi diptong duey atau duay dalam dialek Rejang lain).

2.3 Sumbangan Dialek Rawas

Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.

    1. Konson -l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r.

    2. Diftong ui dan iu diwariskan dari Austronesia Purba *ui dan *iu tanpa perubahan

    sejak 6000 tahun.

    3. Vokal ä diwariskan dari Rejang Purba *ä yang bergabung dengan é dalam dialek lain.

2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l

MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.

Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.

MPP RPur P&L Musi Keban Rawas Melayu

A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air

*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur

*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? (borr) ékor

*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur

*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor

*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh(borr) tidul tidur

*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa n.c. dengar

B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur

*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur

*libeR *liber libea libea libeh libea lébar

*qiliR *ilir n.c. éléa ilih n.c. ilir

2.3.2 MPP, RP *iu dan *ui dan Rawas iu dan ui

Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä

Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.

    MPP RPurba Rawas Dialek lain Melayu

    *nahik *näk näk nék naik

    *paqit *pät pät pét pahit

    *ipen *äpän > äpän épén (gigi)

    *langit *längät > längät léngét langit

Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan H, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.

Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang menunjukkan proses evolusi fonologi.

2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong

Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Lebong Rejang Purba Melayu

    1. ei sadei, atei *sadui, atui desa, ati

    2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau

    3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi

    4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

    5. -ok anok, bapok *anak, *bapak anak, bapak

    6. u dute, luyen *dete, *leyen semua, lain

    7. oi poi, moi *pai, *mai padi, ke

2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir

Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Pesisir Arga Makmur Rejang Purba Melayu

    1. ui sadui, atui *sadui, *atui desa, ati

    2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau

    3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi

    4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi

Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Musi Rejang Purba Melayu

    1. ié sadié, atié *sadui, *atui desa, ati

    2. uo pisuo, danuo *pisiu, *daniu pisau, danau

    3. ei duei, isei *dui, *isi dua, isi

    4. eu supeu, buteu *supu, *butu sapu, batu

    5. -éak lebéak, putéak *lebi?, *puti? lebih, putih

    6. -oak poloak, penoak *pulu?, *penu? puluh, penuh

2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba

Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.

1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.

2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.

2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek

Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.

Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya

2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?

Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.

2.10 Terletak Geografi

Akhirnya, hipotesa tentang Rejang Rawas sebagai tempat Rejang Purba cocok dengan letak geografi di Sumatra.

Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.

Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.

3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang

Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Austronesia lain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.

Hipotesa Ketiga: Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh (Land Dayak) dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana atau sekitarnya, yaitu Kalimantan Utara, di bagian selatan dari kota Kuching sekarang (daerah 2 dalam peta). Ada juga Sungai Rejang dekat situ.

Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 12 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.

3.1 Prinsip

Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.

Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.

Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.

Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-Polynesia Purba (MPP).

Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.

3.2 Kesamaan Fonologi 1-6

Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).

    MPP

    1. *-mb-, *-nd-, *-ngg-, *-nj- > -m-, -n-, ng, nj (`barred nasals’)

    Rejang Rawas: emun tane pingan minjem

    Bukar-Sadong: amum tanŭ pingan minjem

    ‘awan’ ‘tanda’ ‘piring’ ‘meminjam’

    2. *-m, *-n, -ng > -bm, -dn, -gng (‘pre-stopped nasals’)

    Di akhir kata, bunyi sengau biasa sering dilafalkan dengan tambahan konsonan hambat.

      Rejang: dolobm, buledn, burugng, minjebm

      Bukar-Sadong: jarubm, burĕdn, bŭrŭgng, minjebm

      `bundar’

    3. *qa- hilang dalam tiga-sukukata

      MPP: *qapeju *qalimetaq *qateluR

      Rejang: pegeu liteak tenol

      Bukar-Sadong: puduh matak tolok

      ‘empeduh’ ‘lintah’ ‘telur’

    4. *-Ce- dan *-eC- hilang dalam tiga-sukukata

      MPP: *binehi *baqeRu *palaqepaq

      Rejang Lebong: biniak belau pelepak

      Bukar-Sadong: bénék bauh kilepak

      ‘benih’ ‘baru’ ‘pelapah’

    5. *-q > *-k [-?]

      MPP *taneq *jibaq *hasaq

      Rejang Lebong: taneak jibeak aseak

      Bukar Sadong: tanak abak asak

    6. *z > *j (kec. Rej. d- dalam `dalen’ dan `dolom’)

      MPP: *quzan *pinzem *tuzuq

      Rej Lebong: ujen minjem tujuak

      Buk-Sad: ujĕn minjem ijuk

3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay

Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).

    MPP Rej-Buk-Sad Rejang Pur Buk-Sad Purba

    Purba &Rawas & Tibakang

    *danaw *daneu daniu danu

    *punay *punei punui puni

    *qatey *atei atui ati

3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui

    MPP Rej-Buk-Sad Rejang Purba Buk-Sad Purba

    Purba &Rawas & Tibakang

    *hapuy *apui upui apui

    *kahiw *kaiu kiiu kayu

3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata

Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.

3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting

Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.

    MPP Keban- Tibakang Melayu

    agung (Sarawak)

    A. *bulan bule:n burĕ:tn bu:lan

    *quzan uje:n ujĕ:tn u:jan

    *surat suhe:t surĕ:t su:rat

    B. *anak ana:k ana:k a:nak

    *hisang isa:ng insa:kng i:sang

    *hasaq asa:h ng-asa:? a:sah

3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10

    Dalam pola KVKa (silabel akhir kata terbuka), MPP *-a berubah menjadi /e/. Perubahan ini terdengar dalam puluhan bahasa di Nusantara termasuk semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong. Tetapi ada keunikan juga, sebab antara puluhan bahasa itu, hanya Rejang dan Bukar-Sadong mempunyai tekanan pada vokal yang bersangkutan. Logisnya, perubahan *a > e adalah unsur evolusi lama dalam Rejang dan Bukar-Sadong. Lain halnya dalam puluhan bahasa lain itu, di mana *a > e telah muncul sebagai pinjaman dari bahasa Sanskerta dan Jawa di zaman Majapahit . (Tadmor 2003)

    MPP Rejang Buk-Sad Tibakang Melayu

    Purba Purba

    *mata *ma:te *ma:te bate:h mata

    *nanga *na:nge *na:nge nange:h muara

    *lima *li:me *ri:me rime:h lima

    *duha *du:e *du:e due:h dua

    *ni?a *ni:?e *ni:?e ni?e:h nya

3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal

*a > *e / V:C__(C[-velar])#

Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Melayu

*ki:ta > kite > ite kita

*du:ha > *du:e > dui: > dui dua

*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata

*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar

*a:nak > *anak anak anak

3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata

Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.

Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.

3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa

Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.

    1. Awalan hilang

    2. Kasus kataganti hilang

    3. Beberapa kata-berfungsi yang sepadan

Arti Tibakang RejPurba Melayu

Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah

Masa depan kelék *kelak hendak

Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah

`Berapa?’ kudu *kedu berapa

`Di’ ang *tang di

`Mana?’ api *ipe mana

‘Yang’ de *di~do yang

3.7 Kesimpulan: Suku Rejang Berasal dari Kalimantan Utara

Kesimpulan kami dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga tentang asalnya suku Rejang.

Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong

Bahasa Rejang-Bidayŭh Purba 3500 tyl di Kalimantan Utara

Rejang-Bukar-Sadong Purba (3000 tyl) Biatah Milikin Grogo Singgai Lara’ Lunde

*a > e / V:C__(C[-velar])#

pra-Rejang pra-Bukar-Sadong

(migrasi ke Sumatra 1200 tyl)

Rejang Purba (1000 tyl) Bukar-Sadong Purba (1000 tyl)

Menurut hipotesa, nenek moyang suku Rejang keturunan dari suku Rejang-Biday«h yang berada di Kalimantan Utara antara 3500-3000 tahun yang lalu. Kemudian bahasa Rejang-Bukar-Sadong berpisah menjadi Rejang dan Bukar-Sadong, dan sesudah itu, suku Rejang hidup sendirian di Kalimantan Utara selama 1000 tahun lebih. Kemudian entah mengapa suku Rejang migrasi ke Sumatra kira-kira 1200 tahun yang lalu.

Dalam perjalannya yang jaraknya kurang dari 600 kilometer, mereka naik perahu menyeberangi lautan melalui selat Bangka dan masuk Sungai Musi lalu menyusurinya hingga mencapai muara Rawas. Di sana sungai itu bercabang. Ada separuh dari imigran tersebut meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Musi terus melewati Bukit Dempo sampai menemukan lahan yang bagus di daerah Kebanagung sekarang. Yang separuh lagi belok ke kanan dan menyusuri sungai Rawas hingga ke bagian yang paling hulu. Di hulu Rawas terdapat lahan yang baik untuk pertanian dan juga bermanfaat. Dari sana para imigran berjalan ke Lebong tanpa bersusah-payah melalui jalan gajah. Dengan demikian, para pendiri Rejang dapat mencapai Lebong yang sangat indah dan subur itu. Seiring dengan waktu, kemudian dari Lebong ada sekelompok pelopor yang membuka lahan baru sampai ke Pesisir dan daerah Gunung Kaba di sekitar Curup sekarang.

Konon nenek-moyang Rejang tersebut tidak menemukan penduduk lainnya di Sumatra. Namun, tidak lama kemudian para pelopor Rejang ini disusul oleh pelopor Melayu yang cukup puas menduduki dataran rendah sehingga saat ini mereka menempati dataran rendah, sedangkan orang Rejang menduduki dataran tinggi.

                Seminar Bahasa dan Budaya Rejang

                STAIN Curup

                17 November 2007

PUSTAKA ACUAN

A. Pustaka tentang Bahasa Rejang oleh Richard McGinn

2009 (akan datang) Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the

Evidence. In Festschrift, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian

National University.

2008a (akan datang, dengan Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk

Kanak-kanak. (Lima dialek x dua judul = sepuluh buku.) Akan diterbitkan oleh

pemerintah.

2008b (akan datang) Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.

Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri

Tadmor. Jakarta: Universitas Atma Jaya.

2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic

Linguistics 44.1:12-64.

2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian

Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University .

Pacific Linguistics Series C, pp. 37-64.

2000. Where Did the Rejangs Come From? In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth

Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.

1999. The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the 'Ablaut'

Languages of Northwest Borneo. In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.),

Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics.

Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, pp. 205-226.

1998. Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics

43(3/4):359-376.

1997 Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of

Sumatra. Diachronica XIV.1:67-108.

1991 Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay. In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific

Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National

University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.

1989 The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages. The Ohio State University: ESCOL '89, pp. 207-217.

1985 A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages, Journal of Asian Studies

XLIV.4:743-753.

1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and

Languages of Indonesia.

1982b On the So-Called Implosive Nasals of Rejang (with James Coady). In Reiner Carle (ed),

Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kähler.

pp. 437-449.

B. Penelitian Masih Belum Selesai

    The Musi Dialect of Rejang: Phonology and Morphology. (monograph, akan diterbitkan

    oleh jurnal Lingua, Departemen Linguistik dan Pendidikan Bahasa, Pasca Sarjana,

    Universitas Sriwijaya, Palembang)

    (dengan teman sepengarang Dr. Zainubi Arbi)

    Percakapan Dengan Petani-Petani Rejang Pada Tahun 1974. (artikel)

    Rejang Teks dalam Lima Dialek Rejang. (monograph)

C. Pustaka Acuan lain tentang

Bahasa dan Budaya Rejang

Aichele, W. 1935, 1984. A fragmentary sketch of the Rejang language. Reprinted in Jaspan

(1984), pp. 145-158.

Blust, Robert A. 1984. On the history of the Rejang vowels and diphthongs. Bijdragen tot

de Taal-, Land- en Volkenkunde 140:422-450.

Galizia, Michele. 1992. Myth does not exist apart from discourse, or, The story of a myth that

became history. In Victor T. King, ed. The Rejang of southern Sumatra. Hull, England:

University of Hull Centre For South-East Asian Studies, pp. 3-29.

Hazairin. De Redjang. 1936. De volksordening, het verwantschaps-,huweliijks- en erfrecht.

Batavia doctoral thesis (unpublished). 242pp. With map. Bandoeng.

Helfrich, O. L. Uit de folklore van Zuid-Sumatra. BKI 83(1927), pp. 193-315. (Rejang texts pp.

244-248 w/translation pp. 308-315).

Holle, van K. F. n.d. Rejdangische Woordenlijst door den controleur SWAAB in het archief te

Kepahiang aangetroffen, door een onbekende bewerkt naar de blanco-woordenlijst,

36pp.

Hosein, H. M. 1971 ms. Edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58 pp. (stenciled)

Hosein, H. M. 1971 Ms, edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58pp. (stencilled)

Jaspan, Mervyn A. 1964. Folk literature of South Sumatra: Rejang Ka-Ga-Nga texts. Canberra:

The Australian National University.

_____. 1984. Materials for a Redjang-Indonesian-English dictionary, ed. by P. Voorhoeve.

Canberra: Pacific Linguistics Series D, No. 58.

Marsden, William. 1783, 1811. History of Sumatra. London. Reprinted 1966. Kuala Lumpur:

Oxford University Press. (includes a Rejang wordlist and Ka-Ga-Nga script)

Rees, W. A. Van. 1860. De Annexatie Der Redjang eene Vredelievende Militaire Expeditie.

Rotterdam: Nijgh. 119pp. (Contains description of the Rejang and Besemah people

occupying the region between Bengkulu and Palembang.)

Saleh, Yuslisal. 1988. System Morphologi Verba Bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sani, Abdullah. Ms. (n.d. ca. 1975) Petweak lem serambeak. 4pp. (stencilled)

Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.

Syahrul Naspin et. al. 1980/81. Morfologi dan sintaksis bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sya'rani, Atika. 1980. Kata kerja bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

_______. 1981/2. Sistem perulangan kata dalam bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. 'S-Gravenhage:

Martinus Nijhoff.

. 1984. Preface and Postscript to Jaspan (1984).

P. Wink, De onderafdeeling Lais in de Residentie Bengkoeloe. VBG 66/2 (1926),

pp. 111-124: Maleisch-Rejangsche woordenlijst, Lais.

Wuisman, J.J.J.M. 1984. The Rejang and the field of ethnological study concept (Comments

by William D. Wilder). Unity in Diversity: Indonesia as a Field of Ethnological Study. VKI

103, pp. xzxz.

D. Pustaka Acuan Ilmu Bahasa

Adelaar, K. Alexander, 1992, Proto Malayic: A reconstruction of its phonology and part of its

morphology and lexicon. Canberra: Pacific Linguistics C-119.

__________. 2007. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde

163/1:139-146.

Asmah Haji Omar. 1983. The Malay Peoples Of Malaysia and their Languages. Kuala

Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

__________. 1992. An overview of linguistic research on Sarawak. In Martin, Peter W., ed.,

Shifting patterns of language use in Borneo. Williamsburg, VA: The Borneo Research

Council Proceedings Series Vol. Three.

Bellwood, Peter. 1997. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Honolulu: University of

Hawaii Press.

Blust, Robert A. 2006. The origin of the Kelabit voiced aspirates: A historical hypothesis

revisited. Oceanic linguistics 45.2: 311-338.

__________. 1991a (ed). Currents in Pacific Linguistics: Papers in honor of George W. Grace.

Pacific Linguistics Series C, No. 17. Canberra.

__________. 1991b. Sound change and migration distance. In Blust (ed.), pp. 27-42.

__________. (Ms., no date) Austronesian comparative dictionary. Electronic manuscript.

Clark, Ross. 1987. Austronesian Languages. In Bernard Comrie, ed., The World's Major

Languages. New York: Oxford University Press.

Collins, James T, ed. 1990. Language and oral traditions in Borneo. Selected Papers from the

first extraordinary conference of the Borneo Research Council, Kuching, Sarawak,

Malaysia August 4-9. Williamsburg, VA: The Borneo Research Council Proceedings

Series Vol. Two.

Court, Christopher, 1967. Some Areal features of Měntu Land Dayak. Oceanic Linguistics VI:

46-50.

Dahl, Otto Christian. 1976. Proto-Austronesian (2nd Edition). Scandinavian Institute of Asian

Studies monograph series, No. 15. Lund.

Dempwolff, Otto. 1934-1938. Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes.

Berlin: Dietrich Reimer Verlag.

Diamond, Jared and Peter Bellwood. Farmers and their languages: The first expansions.

Science vol. 300, April 24, 2003.

Hudson, A.B. 1978. Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to

Sarawak: an interim report. In Sarawak: Linguistics and Development Problems.

Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies No. 3, pp. 1-45.

Kroeger, Paul R., 1994 Ms. The dialects of Biatah. Borneo Research Council, 3rd Biennial

Meeting, 10-14 July, 1994.

Ray, Sidney H., 1913, The languages of Borneo. The Sarawak Museum Journal 1(4):1-196.

Ross, Malcom D. 1991. How Conservative are Sedentary Languages? Evidence from

Western Melanesia. In Blust (ed.).

__________. 1998. Language classification in Sarawak: a status report. The Sarawak

Museum Journal LIII 74:137-173.

Scott, N.C., 1964, Nasal consonants in Land Dayak (Bukar-Sadong). In David Abercrombie et.

al. eds., In honour of Daniel Jones. London: Longmans, pp. 432-436.

Tadmor, Uri. 2003. Final /a/ mutation: a borrowed feature in Western Austronesia. In John

Lynch, ed., Issues In Austronesian Historical Phonology. Canberra: Pacific Linguistics

550, pp. 15-36.

Topping, Donald M. 1990. A dialect survey of the Land Dayaks of Sarawak. In James T. Collins,

ed., 247-274.

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Martinus Nijhof:

‘S Gravenhage.

Zorc, David. 2006. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. In Oceanic linguistics 45.2: 505-516. http://209.85.175.104/search?q=cache:53fHi4jN-hEJ:oak.cats.ohiou.edu/~mcginn/aSTAIN_paper%26biblio.doc+museum+suku+rejang&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id http://rejang-lebong.blogspot.com/2008/05/asal-bahasa-rejang-seminar-bahasa-dan.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...