Riwayat Keturunan Majapahit memimpin Tiang Pat ( Sejarah Rejang )

1. PUTRI LINDUNG BULAN (Legenda tentang sungai Ketahun - Sejarah Rejang) Puteri Lindung Bulan adalah puteri bungsu dari Rajo Tiang Pat “Sultan Sarduni”, setelah menginjak remaja, banyak sekali pemuda putera-putera Raja, putera-putera Sultan, putera-putera Sunan; dari Aceh, Sulawesi dan daerah lain datang ingin meminang Puteri Lindung Bulan. Tapi anehnya, setiap ada yang meminang, selalu saja secara tiba-tiba tubuh Puteri Lindung Bulan mendapat penyakit kulit yang menular, dan hal inilah yang membuat tidak jadinya pinangan itu. Namun setelah yang meminang itu kembali kedaerah/Kerajaannya, secara tiba-tiba pula penyakit Puteri Lindung Bulan sembuh.
Melihat kejadian yang terus terjadi atas Puteri Lindung Bulan, yang menjadi aib bagi Kerajaan, khususnya bagi saudara-saudara Puteri Lindung Bulan, maka datanglah niat busuk dari saudaranya Ki Geto untuk membunuh Puteri. Dan pada suatu waktu bermufakatlah Saudara-saudaranya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, Ki Nio dan Karang Nio untuk menyingkirkan dan membunuh Puteri. Mereka memberikan alasan kepada ayahnya “Sultan Sarduni”, bahwa mereka mempunyai maksud untuk mengobati Puteri ke hutan hingga sembuh, namun maksud dan usul dari kelima 5 bersaudara ini, tidak disetujui oleh Karang Nio. Karena Karang Nio kalah suara dan mendapat ancaman dari saudara-saudaranya, maka niat jahat tersebut harus dilaksanakan dan Karang Nio sendiri yang harus membunuhnya. Akhirnya pada suatu hari, setelah mendapat izin dari ayahnya, berangkatlah Puteri bersama Karang Nio menuju hutan, hingga sampailah mereka ke hutan dipinggir sungai Ketahun (Ulu Dues), setelah Karang nio menceritakan niat busuk dari saudara-saudaranya yang lain, maka Puteri tidak dibunuhnya, melainkan dihanyutkannya Puteri dengan rakit di sungai Ketahun. Namun untuk mengelabui saudaranya yang lain dan sebagai barang bukti bahwa Puteri telah dibunuh, maka ia menyayat sedikit kulit diatas telinga Puteri dan darahnya dilumurinya dimata pedang. Setelah itu dihanyutkannyalah Puteri dengan rakit dengan diberi sangu berupa secupak beras dawai, sebuah kelapa dan seekor ayam biring serta sepotong bambu sebagai satang (pendayung rakit). Setelah tugas dilaksanakan, Karang Nio kembali ke Bendar Agung untuk melaporkan kepada saudara-saudaranya bahwa Puteri telah dibunuh dengan menunjukkan barang bukti berupa pedang yang berlumuran darah, dan kepada ayahnya dikatakanlah bahwa Puteri sedang berobat di tengah hutan, agar penyakit yang menular itu tidak menyebar dalam Kerajaan Renah Pelawi. Setelah beberapa lama Puteri Lindung Bulan hanyut di sungai Ketahun, akhirnya sampailah ia ke muara sungai Ketahun tidak berapa jauh dari laut, karena dimuara sungai itu airnya tenang dan luas, tentu tidaklah perlu memakai satang lagi, dibuangnyalah satang bambu, buah kelapa dan ayam biring tersebut kedarat, sedangkan secupak beras dawai dihamburkanya ke dalam air, sedangkan rakit dan Puteri terus hanyut hingga ke laut luas, hingga suatu pagi terdamparlah Puteri di suatu pulau “ pulau pagai dalam bahasa Rejang” atau pulau pagi. Setelah beberapa lama kemudian, sangu Puteri yang dibuangnya di muara sungai Ketahun tersebut, yaitu satang bambu akhirnya tumbuh menjadi aur kuning, buah kelapa tumbuh menjadi nibung kuning, ayam biring menjadi burung elang berantai dan beras dawai menjadi segugu. Kejadian ini hingga sekarang masih dapat dilihat di Muara Ketahun 2. Riwayat Rajo Setia Barat Indopuro (legenda 6 lubang di Muara Sangei) Pada suatu malam, Rajo Setio Barat Indopuro pergi untuk menikmati keindahan lautan dengan mengendari kapal, sampai ditengah lautan luas, ia melihat ada suatu cahaya yang terang yang memancar dari sebuah pulau, iapun memutar haluan mendekati pulau, dan ia memerintahkan kepada Hulu Balang, untuk mencari tahu sumber cahaya tersebut. Ternyata cahaya tersebut berada diatas pohon kelapa, dan disekeliling pohon tersebut banyak sekali terdapat binatang serangga dan jenis ular yang berbisa, sehingga Hulu Balang tidak dapat mendekatinya. Oleh karena keingin tahuan Rajo Setio Barat akan sumber cahaya itu, maka Rajo sendiri yang langsung menghampirinya. Dengan kesaktian Rajo Setio Barat, akhirnya Rajo dapat mendekati pohon kelapa itu, dan ternyata sumber cahaya itu adalah seorang Puteri yang cantik jelita “Puteri Lindung Bulan”, akhirnya Puteri Lindung Bulan mengikuti Rajo Setio Barat pulang ke Kerajaan Indopuro. Setelah sampai di Kerajaan Indopuro, Rajo mengundang para Ajai, para cerdik pandai dan orang-orang terkemuka di Kerajaan, untuk memperkenalkan sang Puteri, dan sekaligus menyampaikan niatnya untuk memperistri Puteri Lindung Bulan ini. Sebelum dilaksanakan pernikahan, maka dikirimlah surat untuk mohon restu dan kesediaan Rajo Jang Tiang Pat di Lebong (Sultan Sarduni) sebagai wali pernikahan ini, namun berhubung Sultan Sarduni tidak dapat menghadirinya, maka Sultan Sarduni mengutus keenam anaknya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, Ki Nio dan Karang Nio. Sebelum enam bersaudara ini berangkat, dan untuk meredam kemarahan saudara-saudaranya, Karang Nio harus berbohong kembali dan menjelaskan kepada saudara-saudaranya bahwa dahulu ia telah benar-benar membunuh Puteri Lindung Bulan, namun seperti kita maklumi, bahwa kita adalah keturunan Rajo yang memiliki kesaktian, begitu juga halnya dengan Puteri. Setelah mendengar penjelasan yang logika tersebut, maka berangkatlah keenam bersaudara ini menuju Kerajaan Indopuro, sebagai utusan Sultan Sarduni/Rajo Tiang Pat. Setelah mereka sampai di Kerajaan Indopuro dan menjelaskan identitas diri mereka, Rajo Setio Barat tidak percaya begitu saja dengan keterangan mereka, maka untuk menguji kebenarannya, maka Rajo Indopuro memanggil Puteri Lindung Bulan beserta 6 orang Puteri Kerajaan, yang didandani dengan pakaian seragam, sehingga bila dilihat sepintas lalu, sulit untuk mengenal mana Puteri Lindung Bulan. Diwaktu ketujuh Puteri tersebut berada di Balairung Sari, maka dipanggillah Ki Geto bersaudara, dengan cara bergiliran untuk menunjuk yang mana Puteri Lindung Bulan, namun tak seorangpun yang dapat membedakannya, terakhir tibalah giliran Karang Nio. Dan diwaktu Karang Nio berada dihadapan ketujuh Puteri, Puteri Lindung Bulan menyibakkan rambutnya untuk memperbaiki letak rambutnya sehingga terlihatlah bekas luka, maka dengan tidak ragu-ragu Karang Nio menunjukkan dialah Puteri Lindung Bulan itu. Setelah Rajo Indopuro yakin bahwa mereka memang benar saudara-saudara Puteri Lindung Bulan, mereka diterima dengan baik sebagai keluarga Kerajaan, sehingga pernikahan dapat dilaksanakan, dan dengan dimeriahkan dengan Kejai (tarian adat Rejang) dan tarian/kebudayaan dari daerah-daerah lain selama 7 hari 7 malam. Setelah usainya acara pernikahan ini, maka Ki Geto bersaudara berpamitan untuk pulang, dan Rajo-pun memberikan oleh-oleh sebagai tanda mata kepada mereka, masing-masing mendapatkan 1 ruas buluh telang emas, 1 tangan baju perak, 1 potong sabuk panjang 9 (setagen) dan 1 buah pencalang (sejenis perahu). Berangkatlah keenam saudara ini dan diantar oleh Rajo Indopuro, Puteri Lindung Bulan dan keluarga Kerajaan, mengarungi lautan dengan menaiki pencalang masing-masing. Setelah mereka antara terlihat dan tidak, maka berkatalah Puteri Lindung Bulan : “ Ya.. Allah, bila memang benar aku ini adalah Puteri Rajo Kerajaan Jang Tiang Pat Renah Pelawi Lebong, dan kalau benar kakak-kakak ku dahulu ingin membunuhku, datangkanlah badai dan tenggelamkanlah pencalang mereka, kecuali yang membela dan melindungi aku. Tidak lama kemudian, datanglah badai yang mengombang ambingkan pencalang mereka ditengah lautan, sehingga terbaliklah pencalang mereka, kecuali pencalang Karang Nio hingga akhirnya sampailah dia ketepi. Setelah tiba ditepi dan menyaksikan saudara-saudaranya masih terombang-ambing sambil berpegangan dengan pencalang mereka dan Karang Nio-pun berharap semoga kelima saudaranya akan terdampar (Tersangei = bahasa Rejang) didaratan ini. Tidak beberapa lama kemudian tibalah kelima saudaranya, dan menceritakan kepada Karang Nio, bahwa oleh-oleh bagian mereka telah tenggelam kedasar lautan dan pencalang mereka tersangei dimuara sungai (Muara Sangei/Sangai), mendengar itu Karang Nio menggali tanah membuat 6 buah lubang untuk tempat membagi bagiannya menjadi enam bagian sama banyak. Keenam lubang tersebut hingga saat ini masih dapat kita saksikan. 3.Riwayat Ki Geto Bersaudara Setelah menyesali akan perbuatan dan niat jahat mereka dahulu terhadap Puteri Lindung Bulan, dan karena malu, akhirnya Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, Ki Nio merasa takut untuk pulang kembali ke Kerajaan Jang Tiang Pat, mereka ingin menebus dosa dan perbuatan mereka, dan akhirnya kelima bersaudara ini berpesan kepada Karang Nio : “Keme migai belek igai, belekba ko suang moi lebong”. Jadi kelima bersaudara ini hingga hari ini tidak pernah kembali ke Lebong, mereka pergi mengembara dalam daerah Bengkulu. Setelah beberapa lama mereka mengembara, akhirnya mereka menetap disuatu daerah dan menjadi pemimpin di daerah itu, dan dimana saja mereka menetap bernamalah Banggo mereka ini dengan julukan Banggo Merigi. Merigi berasal dari Bahasa Rejang yaitu “Migai”. Ki Geto menjadi pemimpin di Kelobak Kepahyang, sedangkan saudaranya yang lain berpencar kedaerah lain. Dan akhirnya Ki Tago dan Ki Ain wafat di Pasemah Air Keruh; Ki Genain wafat di Pugung Keroi; Ki Nio wafat di daerah Lampung. Sedangkan Karang Nio, setelah Sultan Sarduni Rajo II Renah Pelawi Lebong meninggal, maka diangkatlah ia sebagai Rajo III di Renah Pelawi Lebong. 4. Riwayat Keturunan Majapahit memimpin Tiang Pat Dimasa Tiang Pat dipimpin oleh Rajo Sultan Saktai gelar Rajo Jongor, Rajo Megat, Rajo Mudo dari Kerajaan Pagaruyung, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat maju dengan pesat dan aman, tapi sementara itu Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Hayamwuruk dan Patih Gajah Mada sedang dalam kekacauan dikarenakan terjadinya perebutan kekuasaan dan pemberontakan. Dikarenakan terjadinya kekacauan itu, maka ada beberapa pemimpin Kerajaan meninggalkan Kerajaan Majapahit, dan mengembara sehingga akhirnya sampailah mereka di Kerajaan Renah Pelawi Lebong. Mereka yang mengembara tersebut antara lain adalah : 1. Biku Sepanjang Jiwo; 2. Biku Pejenggo; 3. Biku Bembo dan 4. Biku Bermano. Pada mulanya keempat Biku ini selain menyebarkan agama Budha, mereka juga sebagai orang yang memberikan nasehat kepada Rajo Tiang Pat dalam menjalankan pemerintahan, dan dengan dilibatkannya keempat Biku ini dalam pemerintahan, keadaan Jang Tiang Pat semakin maju dan berkembang dengan pesat, dan oleh karena itulah, oleh para pemimpin Jang Tiang Pat, diangkatlah keempat Biku ini sebagai pendamping untuk menjalankan pemerintahan di Tiang Pat Renah Pelawi, yaitu sebagai berikut : 1. Biku Sepanjang Jiwo sebagai pendamping Begelang Mato pemimpin Tiang I di Bendar Agung Lebong. 2. Biku Pejenggo sebagai pendamping Rio Bitang pemimpin Tiang II di Atas Tebing. 3. Biku Bembo sebagai pendamping Rio Jengan pemimpin Tiang III di Suko Negeri Tapus. 4. Biku Bermano sebagai pendamping Rio Sabu pemimpin Tiang IV di Kuto Rukam Tes. Setelah beberapa lama kemudian, maka pucuk pimpinan di Tiang II, III dan IV diserahkanlah kepada masing-masing Biku, sedangkan pucuk pimpinan di Tiang I tetap dipegang oleh Begelang Mato, hal ini dikarenakan Biku Sepanjang Jiwo kembali keKerajaan Majapahit. Sumber : Rejang-lebong.blogspot.com

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...